<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Files</title>
	<atom:link href="http://peristiwanasional.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://peristiwanasional.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 12:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='peristiwanasional.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indonesia Files</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://peristiwanasional.wordpress.com/osd.xml" title="Indonesia Files" />
	<atom:link rel='hub' href='http://peristiwanasional.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/12/02/522/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/12/02/522/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 07:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kiriminal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 05 Mei 1979.  Perampok Bertampang Banci TAK seorang kenalannya pun dapat menyangka sebelumnya. Johanes Hubertus Eijenboom (27 tahun) seorang yang tampan. Lagak lagunya lembut. Sedikit pun tak mencerminkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang keras. Bahkan untuk model iklan rokok pun, menurut pimpinan biro iklan Intervista yang membayarnya untuk itu, ia tak cukup jantan. &#8220;Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=522&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tempo 05 Mei 1979.  Perampok Bertampang Banci TAK seorang kenalannya pun dapat menyangka sebelumnya. Johanes Hubertus Eijenboom (27 tahun) seorang yang tampan. Lagak lagunya lembut. Sedikit pun tak mencerminkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang keras. Bahkan untuk model iklan rokok pun, menurut pimpinan biro iklan Intervista yang membayarnya untuk itu, ia tak cukup jantan. &#8220;Dia kebanci-bancian,&#8221; kata orang biro iklan tadi. Johny Indo &#8212; begitu namanya disebut, karena ia Indo Belanda &#8212; hanya dipasang sebagai peran pembantu dalam iklan rokok Ardath. Yang diketahui oleh Toto dari Intervista si Johny tampak putus asa. &#8220;Ia betul-betul sedang membutuhkan uang,&#8221; kata Toto. Melamar pekerjaan di berbagai kantor selalu gagal. Sedangkan honorariumnya sebagai model yang belum ternama memang tak cukup memberinya penghasilan bagi isteri dan ke 4 anak perempuannya. Belum terhitung bagi 2 atau 3 pacarnya. Itu saja yang diketahui teman-temannya. Dukun Wanita Selebihnya, menurut cerita polisi, Johny yang feminin itu mampu mengumpulkan banyak teman dari kalangan &#8220;hitam&#8221;. Dia membeli sepucuk pistol. Sebuah senjata laras panjang lainnya disrobot dari seorang petugas keamanan yang lengah di tempat hiburan Ancol.<span id="more-522"></span> Lalu mulai bekerja. Tak kurang dari 7 peristiwa perampokan toko emas di Jakarta, seperti di Kebonkacang, Roxy. Sawahbesar, Pasar Jangkrik dan Kepu, diduga keras bekas tangan komplotannya antara awal tahun lalu sampai Maret kemarin. Dari laporan para korban, komplotan Johny Indo telah menggasak sekitar 16 Kg emas. Polisi sudah lama mengincar komplotan Johny ini. Bergerak sejak dinihari, Selasa 17 April kemarin, hingga sore polisi berhasil meringkus 13 anggota komplotan Johny dari berbagai tempat setelah peristiwa perampokan toko emas di Pasar Jangkrik. Johny sendiri lolos. Seminggu kemudian barulah ia dibekuk polisi di gua Kiansantang. Konon di tempat itulah Prabu Siliwangi dulu bertapa, 7 Km dari Sukabumi. Setelah ke 13 temannya diringkus Johny rupanya sangat gelisah. Dari mulut kawanan perampok itu polisi tentu tak sulit mengetahui kepalanya. Karena itu Johny selalu berikhtiar menghindar. Pertama dia minta nasehat seorang pamannya di Parung, di Km 30 jalan antara Jakarta-Bogor. Di siN Johny kecewa. Pamannya hanya menyarankan sebuah &#8216;pil tenang&#8217;: menyerah saja kepada polisi. Dia menolak. Dari Parung terus ke Pandeglang. Di sana diketahuinya ada seorang pintar yang dengan jampa-jampinya dapat menghindarkan seorang dari kejaran polisi. Segelas air putih dari orang pintar tersebut dapat sedikit menenangkan perasaannya. Johny berani kembali ke Jakarta. Namun begitu perasaan dikejar-kejar polisi, karena ia memang buron, tak mau hilang-hilang juga. Dari seorang dukun wanita di Tanjungpriok Johny dianjurkan bertapa di gua Kiansantang di Desa Gunungguruh dekat Sukabumi. Johny menurut. Setelah lebih dulu menjual sepedamotornya di Pecenongan, 24 April Johny terus berangkat ke bekas pertapaan Prabu Siliwangi itu. Tapi tempat keramat itu rupanya tak dapat menerimanya. Juru kunci pertapaan memang selalu mendesak setiap pegunjung untuk mengakui apa keperluan yang sebenarnya sebelum melakukan semedi di sana. Johny berharap mendapatkan perlindungan, terus terang menceritakan keperluannya. Ini sialnya. Karena tak terikat oleh &#8216;kode etik&#8217; untuk menutupi rahasia &#8216;kliennya&#8217; &#8212; atau juru kunci itu tak rela tempat keramatnya dijadikan persembunyian penjahat &#8212; kedatangan Johny dilaporkan kepada mantri polisi. Selanjutnya cerita biasa. Laporan juru kunci oleh mantri polisi diteruskan ke pos polisi Cisaat. Kepolisidn Jakarta yang dikontak segera mengirim petugas dan membekuk Johny yang sudah siap bertapa. Namun bagi biro iklan Intervista tentu bukan cerita biasa. Tak mungkin memasang tokoh (tersangka) bandit untuk sebuah iklan, bukan? Jadi, 20.000 lembar poster iklan Ardath, yang menampilkan tampang tampan Johny terpaksa distop peredarannya. Iklan di penerbitan dan televisi, untuk rokok dan obat batuk, juga mesti ditarik dari peredaran. Kerugian Intervista, menurut seorang pimpinannya, sekitar Rp 25 juta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/522/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=522&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/12/02/522/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Manis, Sebuah Sejarah (KAA 1955)</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/kenangan-manis-sebuah-sejarah-kaa-1955/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/kenangan-manis-sebuah-sejarah-kaa-1955/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 07:53:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 28 April 1979. RUANG pameran Gedung Kebangkitan Nasional di jalan Abdurrachman Saleh, Jakarta, Senin pagi lalu tampak sepi. Hampir tidak ada pengunjung yang menonton Pameran Foto dan Dokumentasi Konperensi Asia-Afrika yang diselenggarakan Panitia Peringatan Tri-Windu Konperensi Asia-Afrika 18-24 April lalu. Kurang dari 200 nama tertulis di buku tamu pameran. Suasana ceramah yang berlangsung di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=510&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/kenangan-manis-sebuah-sejarah-kaa-1955/bandung3/" rel="attachment wp-att-513"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-513" title="bandung3" src="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/bandung3.jpg?w=150&#038;h=122" alt="" width="150" height="122" /></a>Tempo 28 April 1979. RUANG pameran Gedung Kebangkitan Nasional di jalan Abdurrachman Saleh, Jakarta, Senin pagi lalu tampak sepi. Hampir tidak ada pengunjung yang menonton Pameran Foto dan Dokumentasi Konperensi Asia-Afrika yang diselenggarakan Panitia Peringatan Tri-Windu Konperensi Asia-Afrika 18-24 April lalu. Kurang dari 200 nama tertulis di buku tamu pameran. Suasana ceramah yang berlangsung di ruang pertemuan tidak jauh berbeda. Hanya 18 orang yang hadir dalam ceramah yang diberikan oleh Ubani, bekas Dubes Indonesia untuk Siria. Walau yang hadir sedikit, penceramah sendiri kelihatan bersungguh-sungguh. Beberapa pemuda yang hadir tampak membawa buku pinjaman dari perpustakaan Idayu yang bertempat di kompleks yang sama. Tertarikkah mereka pada peringatan Konperensi AA? &#8220;Iseng saja, mas, habis dari perpustakaan Idayu. Daripada bengong di rumah,&#8221; tutur salah satu dari mereka. Suasana pembukaan pekan peringatan yang dilangsungkan di bawah tenda di halaman Gedung Pola 18 April lalu cukup meriah. Sekitar 250 orang termasuk para diplomat Asia-Afrika hadir pada upacara yang dibuka Wapres Adam Malik. <span id="more-510"></span>Dalam rangkaian pekan peringatan ini, termasuk juga diskusi panel dengan pemrasaran Menpen Ali Moertopo serta suatu pekan film A-A. Peringatan Tri-Windu Konperensi AA tahun ini dilakukan oleh sebuah panitia yang didukung Angkatan 45, Lembaga Penelitian Masalah Hubungan Internasional Universitas 17 Agustus, Yayasan 17-8-1945, Yayasan Idayu, Yayasan Studi Pembangunan dan Pengembangan Nasional serta DPP KNPI. Pada 1971, Dwi-Windu Konperensi AA diperingati pemerintah dengan suatu upacara disertai pidato Presiden di TMII Jakarta. Alasan peringatan, seperti disebutkau dalam salah satu selebaran panitia, karena melihat kecenderungan masyarakat untuk tak acuh terhadap peranan yang telah dimainkan prinsip-prinsip Bandung bagi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika. <!--more-->Hingga &#8220;sepantasnyalah bila kita melihat kembali pada sejarah kita sendiri dan berusaha menghidupkan kembali prinsip-prinsip besar yang telah dicetuskan di Bandung.&#8221; Sasaran peringatan ini, menurut Karna Radjasa, salah satu ketua panitia, adalah untuk menarik perhatian masyarakat terutama kaum mudanya, bahwa kalau ada kemauan politik yang cukup besar, bangsa Indonesia mampu melakukan hal-hal yang luar biasa. &#8220;Saya lihat kebanggaan nasional kita mulai pudar hingga kita harus berdaya upaya untuk menggunakan apa yang ada untuk memupuk kebanggaan nasional ini,&#8221; kata Karna Radjasa, putera Ali Sastroamidjojo Ketua Konperensi AA. Betulkah Konperensi AA suatu prestasi yang luar biasa yang bisa dibanggakan? Mengapa generasi muda tampaknya kurang memahami atau tertarik pada peristiwa sejarah besar itu? Pertanyaan berikutnya: tidakkah peringatan ini sekedar nostalgia dari generasi yang mengalami peristiwa itu? Atau seperti yang ditanyakan Wapres Adam Malik: &#8220;Sebagai lamunan keberhasilan dan kebesaran suatu kejadian 24 tahun yang silam?&#8221; Terus terang, setelah Konperensi AA selesai, kita terkejut girang bahwa konperensi ini telah berhasil mendobrak banyak hal. Afrika terbakar oleh semangat Bandung.&#8221; kata Roeslan Addulgani yang pada konperensi itu menjabat Sekjen. Proses kemerdekaan negara-negara jajahan Inggeris dan Perancis, terutama di Afrika dipercepat. Jumlah anggota PBB meningkat. Akibatnya di badan dunia ini muncul kekuatan baru kelompok Asia-Afrika dan berakhirnya dominasi kelompok AS di PBB. Suatu solidaritas baru tumbuh: solidaritas Asia-Afrika. Kemudian kelompok ini berkembang lagi menjadi kelompok Dunia Ketiga. Konperensi AA, kata Adam Malik, telah melahirkan kekuatan moral yang luar biasa besarnya bagi kebangkitan bangsa-bangsa di dunia dan suatu momentum sejarah yang sangat penting artinya bagi penentuan nasib bangsabangsa yang masih atau pernah hidup dalam alam penjajahan dan penindasan kaum imperialis dan kolonialis. Pengakuan bahwa Konperensi AA yang menghasilkan Dasaila Bandung ,tampaknya memang lebih terasa di luar negeri terutama di Afrika daripada di Indonesia sendiri. Sepinya perhatian generasi muda pada peringatan tahun ini membuktikan hal ini. &#8220;Saya menghadiri ceramah ini karena undangan. Kalau tidak, juga tidak akan datang,&#8221; kata Jeffrey Baso, Ketua Ikosis DKI di Gedung Juang 45 Senin lalu waktu menghadiri panel diskusi peringatan Konperensi AA. Konperensi A-A memang dipelajarinya dalam pelajaran sekolah dan itu dia akui &#8220;sebagai hasil orang tua.&#8221; Kurangnya perhatian dan pengetahuan sebagian besar generasi muda itu diakui juga oleh Ketua Umum KNPI Akbar Tanjung. &#8220;Kecuali tidak mengalami atau terlibat langsung, banyak generasi muda merasa kurang melihat relevansi konperensi itu,&#8221; katanya. Berdasar kecenderungan tersebut KNPI berusaha membangkitkan semangat kepeloporan bangsa Indonesia dalam Konperensi A-A ini di kalangan generasi muda. KNPI semula merencanakan memperingati konperensi ini dengan ceramah Roeslan Abdulgani, tapi setelah mengetahui sudah adanya panitia lain, mereka menggabungkan diri dengan panitia Karna Radjasa dkk. Lalu seberapa jauh nostalgia berperanan dalam peringatan tahun ini. Karna Radjasa dan juga Roeslan mengakui nostalgia ini memang ada. Tapi berhasilnya Konperensi A-A menurut Roeslan membuktikan bahwa daya kreatifitas bangsa Indonesia ada dan bisa dibuktikan kalau menghadapi tugas besar. Roeslan, yang pada Konperensi A-A berusia 41 tahun dan terpilih sebagai sekjen bercerita tentang salah satu nostalgia pribadinya. &#8220;Waktu itu 18 April 1955, hari pertama Konperensi A-A. Pembukaan telah dilakukan oleh Presiden Soekarno dan siang itu sekitar jam 13.00 saya ditelepon di tempat penginapan saya. Hujan deras disertai guntur yang jatuh siang itu ternyata telah membuat bocor Gedung Merdeka dan air tergenang di ruang konperensi. Untung sidang siang itu sudah selesai tapi akan dilanjutkan sore itu juga. Buru-buru kami semua pergi ke Gedung Merdeka. Tanpa terkecuali kita semua, para pekerja, para mahasiswa Akademi Dinas Luar Negeri yang membantu panitia, Kepala Dinas PU Ja-Bar, ir. Srigati Santoso, Kepala CPM Ja-Bar Kolonel Rusli, Gubernur Ja-Bar Sanusi Hardjadinata dan saya sendiri mencopot baju dan celana dan mengepel serta mengeringkan ruang konperensi. Untung sekitar jam 14.30 hujan berhenti. Begitu sidang dimulai jam 15.30, ruang konperensi bersih dan kering, tak setetespun air bekas bocoran tinggal.&#8221; Konperensi A-A memang betul timbul atas prakarsa murni Indonesia. Di Konperensi Kolombo pada April 1954 yang dihadiri 5 PM Asia, Jawaharlal Nehru dari India, U Nu dari Birma, Mohammed Ali dari Pakistan, Ali Sastroamidjojo dari Indonesia serta tuan rumah PM Sir John Kotelawala, usul Indonesia untuk menyelenggarakan konperensi antara negara-negara Asia-Afrika disambut dengan dingin. Keempat negara tidak yakin gagasan Indonesia itu bisa terlaksana. Tapi perkembangan situasi dunia terutama ketegangan akibat perang dingin antara blok AS dan blok Uni Soviet yang muncul di Indocina makin &#8220;mematangkan&#8221; perlunya konperensi semacam itu. Usaha AS di bawah Menlu Dulles untuk membendung pengaruh komunis melahirkan SEATO pada September 1954. Sementara itu, RRC mulai menembaki pulau Quemoy yang diakui sebagai wilayahnya, hingga Armada VII AS digerakkan ke kawasan ini. Gagasan Konperensi A-A ini kemudian makin dimatangkan dengan kunjungan Ali Sastroamidjojo dan Menlu Sunario ke India dan Birma. Konperensi Bogor yang dilangsungkan akhir Desember 1954 dan dihadiri 5 negara sponsor menetapkan jumlah negara yang diundang serta tujuan konperensi. Persiapan dan penyelenggaraan konperensi dipercayakan pada Pemerintah Indonesia. Ali Sastroamidjojo kemudian menetapkan Bandung sebagai tempat konperensi. Dari 25 negara yang diundang (di luar 5 negara sponsor) hanya satu yang menolak hadir Federasi Afrika Tengah yang walaupun sudah merdeka bekas penguasa kolonialnya masih berkuasa. (Di Afrika, waktu itu hanya ada 4 negara yang merdeka penuh). Konperensi A-A adalah konperensi internasional penting pertama yang diselenggarakan Indonesia. Persiapannya amat pendek 3 bulan. Mengetahui kesulitan-kesulitan tehnis yang dihadapi, PM India Nehru lewat utusan khususnya mengusulkan untuk mengatasi kekurangan fasilitas konperensi dengan mengadakan perkemahan besar-besaran di suatu lapangan di Bandung. Partai Kongres India, katanya, sudah berpengalaman dalam hal itu. Usul ini ditolak karena alasan keamanan. Semua fasilitas yang diperlukan akhirnya berhasil diatasi pemerintah. Masalah keamanan memang yang paling rumit. Di Jawa Barat waktu itu DI/TII masih kuat. Dan akibat sabotase, pesawat Kashmir Princess yang antara lain membawa delegasi RRC meledak di atas Kepulauan Natuna. Sekitar 600 orang dari 29 negara mewakili hampir 1,5 milyar manusia yang merupakan 3/5 dari penduduk dunia hadir dalam Konperensi ini. Sekitar 700 wartawan termasuk 300 wartawan Indonesia mengkovernya. Pidato pembukaan oleh Bung Karno memperoleh penghargaan tinggi dari semua delegasi hingga atas prakarsa PM Nehru, konperensi secara aklamasi menyampaikan terima kasih atas pidato pembukaan yang begitu mengesankan. &#8220;Kolonialisme belum mati,&#8221; kata Bung Karno. Kolonialisme bisa memakai rupa baru, dalam bentuk penguasaan ekonomi, kebudayaan dan politik. Kolonialisme adalah musuh yang lihai yang bisa berubah dalam berbagai bentuk. Bangsa-bangsa Asia-Afrika karenanya harus membentuk suatu front anti kolonialisme dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika. Sudah waktunya bagi bangsa-bangsa A-A untuk memperdengarkan suaranya dalam percaturan politik dunia. Konperensi Bandung hendaknya mencari jalan ke arah perdamaian, tidak saja untuk bangsabangsa A-A, tapi bagi seluruh umat manusia.&#8221; Diselingi beberapa pertentangan sengit, terutama menyangkut rumusan kolonialisme, penutupan konperensi dapat dilakukan setelah 2 jam terlambat dengan pernyataan terakhir yang memuat 10 pasal yang kemudian terkenal sebagai Dasasila Bandung. Antara lain: prinsip menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara, tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain dan menyelesaikan segala perselisihan internasional secara damai sesuai dengan Piagam PBB. Pada dasarnya prinsip-prinsip ini kemudian dikenal sebagai prinsip hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence). Bahwa Semangat Bandung kemudian membakar dan merangsang banyak bangsa-bangsa terjajah terutama di Afrika untuk melepaskan diri dari belenggu kolonialisme diakui dunia. Keberhasilan Konperensi A-A telah mengangkat tinggi kedudukan Indonesia di mana pun. Ini kemudian mendorong semangat &#8220;anti nekolim&#8221; yang kemudian melahirkan berbagai pertemuan yang serba Asia Afrika, seperti Konperensi Mahasiswa A-A, Konperensi Wartawan A-A, Konperensi Pengarang A-A serta Konperensi Islam A-A. Lahirnya pemerintah Orde Baru, situasi dunia yang berubah serta tantangan-tantangan jaman yang berubah pula menyebabkan makin memudarnya Dasasila Bandung serta kenangan pada Konperensi A-A yang diakui telah merubah sejarah. Hingga tema diskusi panel yang dipilih Panitia Tri-Windu Konperensi A-A tahun ini: &#8220;Masih Perlukah Dihidupkannya Semangat Bandung&#8221; menjadi amat aktuil. Semua pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan Senin lalu mengakui masih relevannya Semangat Bandung. &#8220;Yang kita perlukan sekarang ialah Semangat Bandung sebagai prinsip Dunia Ketiga atau negara berkembang. Prinsip dan Semangat Bandung tidak akan hilang relevansinya. Kita tetap memerlukannya selama orang di Indonesia ini tidak ganti. Masalahnya, dasar negara kita adalah Pancasila dan itu tercermin pula dalam semangat dan prinsip Bandung,&#8221; kata Menteri Penerangan Ali Moertopo dalam diskusi itu. Bekas Menlu pada jaman Konperensi A-A, Sunario (76 tahun) merasa gundah kalau Pemerintah tampaknya &#8220;adem ayem&#8221; dalam peringatan sekarang. Ia menghimbau pemerintah untuk mengkampanyekan Semangat Bandung ini. Bukan saja karena semangat ini memang masih relc!an, tapi juga karena tantangan-tantangan yang dihadapi justru lebih besar. &#8220;Dunia sekarang malah lebih keruh daripada dulu,&#8221; tuturnya pada TEMPO. Menurut Roeslan Abdul gani, Dasasila Bandung dapat digunakan sebagai pedoman dan pegangan untuk menyelesaikan masalah-masalah internasional yang non-militer. Dunia mungkin memang lebih keruh. Kolonialisme dalam bentuk penjajahan politik tidak menonjol lagi. Negara-negara baru memasuki tahap pembangunan ekonomi. Perbedaan ideologi tidak lagi menjadi penghalang hubungan antar negara. Kepentingan nasional terutama kepentingan ekonomi makin menonjol dan mengalahkan solidaritas ideologi. Konflik antar negara lebih banyak diakibatkan pertentangan nasional ini. Peta bumi dunia sudah berubah. AS berbaik dengan RRC sedang RRC dan Vietnam yang sama-sama komunis bersengketa. Lalu beberapa negara Afrika saling memusuhi. Solidaritas Asia-Afrika tampaknya tinggal kenangan indah belaka. Dalam situasi demikian bisakah Indonesia kembali &#8220;menghidupkan&#8221; dan menggalakkan Semangat Bandung? &#8220;Adanya bantuan dari negara-negara barat yang cukup besar telah merusak citra Indonesia di negara-negara Asia Afrika dan non-blok,&#8221; ujar Dr. Juwono Sudarsono dari Universitas Indonesia. Indonesia dituduh lebih banyak condong ke Barat. Dan mereka tidak bisa disalahkan karena itu memang wujud dari perasaan mereka terhadap situasi pragmatis dari politik luar negeri Indonesia yang lebih mementingkan bantuan ekonomi Barat, tanpa melihat perwujudan idealisme. Indonesia, menurut Juwono, harus bisa meyakinkan negara A-A bahwa perjuangan itu tidak bisa lepas dari mencoba menyusun Tata Ekonomi Internasional Baru. Usaha ini diakuinya susah karena negara-negara itu sudah terlanjur mempunyai pandangan negatif pada Indonesia. Jadi? Menurut dosen UI ini, yang paling penting adalah bagaimana menata kembali sistim perekonomian kita dan jangan terlalu bergantung pada bantuan negara Barat. &#8220;Seribu kali kita keluarkan pernyataan bahwa Indonesia tetap non-blok, tidak akan ada gunanya selama kita masih tetap seperti sekarang ini, dan negara-negara non-blok tidak akan berubah pandangannya pada kita.&#8221; Kemerdekaan dan kedaulatan telah dicapai sebagian besar bangsa-bangsa Asia-Afrika. Solidaritas yag tumbuh telah pudar antara lain karena tantangan-tantangan baru yang tumbuh. Suatu prinsip bisa lestari relevansinya, tapi mengetrapkannya kembali dalam suatu jaman yang lain tampaknya merupakan soal yang rumit. Apalagi jika hal itu harus disodorkan pada negara lain. Jadi apakah Dasasila Bandung hanya akan merupakan dokumen sejarah saja yang sesekali akan disinggung? Ataukah prinsip-prinsipnya telah diterima sebagai kebenaran umum tanpa perlu menyebutkan sumber aslinya? Sebab tidakkah Deklarasi Shanghai misalnya, yang membuka kembali hubungan AS-RRC, samasekali tidak menyebut Bandung sekalipun prinsip koeksistensi damai menjadi dasar utama? Yang jelas saat ini tampaknya keberhasilan Konperensi A-A- atau Dasasila Bandung tidak bergema di antara generasi muda Indonesia. Mungkin bisa didalihkan, prestasi bersejarah Konperensi A-A- kurang dikenal generasi muda karena itu dianggap &#8220;hasil karya Orla.&#8221; Kalaupun emosi telah mendingin dan akal sehat kembali, yang bisa dicapai paI ing-paling suatu pengakuan rasionil pada suatu prestasi besar yang pernah menjadi sumber ilham banyak negara. Jadi apakah Konperensi A-A itu perlu diperingati? &#8220;Tiap peringatan ada perlunya, terutama untuk mengingatkan kembali adanya sumbangan Indonesia bersama negara-negara A-A pada pemikiran yang mendobrak situasi internasional 24 tahun lalu,&#8221; kata Roeslan Abdulgani. Menurut Roeslan di banyak negara A-A, konperensi Bandung masih dikenang. Ini dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya antara lain oleh Organisasi Kesetiakawanan Asia-Afrika (OSRAA) tentang kemungkinan peringatan 25 tahun Konperensi A.A. Pemerintah Indonesia sendiri kabarnya merencanakan suatu peringatan Seperempat Abad Konperensi A-A tahun depan. Mungkin bukan untuk sekedar nostalgia, tapi kiranya akan bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesungguhnya.</div>
<div>28 April 1979</div>
<h3><a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1979/04/28/NAS/mbm.19790428.NAS56083.id.html#">Gedungnya Laris Tapi Turis Kecewa </a></h3>
<p>BEBERAPA foto, peta dunia dari kayu dan dinding bertuliskan Dasasila Bandung mengisi ruangan berukuran 22 kali 8 meter itu: Ruang Asia-Afrika. Hampir tidak ada bukti lain bahwa gedung Merdeka di Bandung ini pernah menjadi tempat diselenggarakannya Konperensi Asia-Afrika yang termashur itu. Bisa dimengerti bila banyak turis asing yang khusus datang ke Bandung untuk melihat gedung bersejarah ini kecewa. Jelas terlihat kurangnya perhatian untuk memelihara keaslian gedung bersejarah ini. Kursi yang dulu pernah dipakai dalam konperensi kini tinggal tersisa 400 buah, itupun joknya sudah diganti dengan karet busa. Lalu masih ada 30 meja serta sejumlah tiang bendera kecil. Yang lainnya? &#8220;Wah, itu tidak diketahui,&#8221; kata R. Aksan Oleredja, pengelola Gedung Merdeka pada TEMPO. Gedung yang dibeli pemerintah pada 1955 ini sekarang statusnya di bawah Sekretariat Negara, tapi pengelolaan dan penggunaannya oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat. Sekneg sendiri tidak menyediakan dana untuk perawatan gedung ini sedang biaya pemeliharaannya memerlukan sekitar Rp 20 juta setahun. Rekening listrik dan air saja per bulan berjumlah Rp 230 ribu. Lalu dari mana biaya pemeliharaan didapat? &#8220;Daripada jadi rusak, gedung ini terpaksa dikomersilkan,&#8221; ujar Aksan. Maksudnya disewakan pada umum. Begitulah, berbagai pihak kemudian memanfaatkan gedung ini: instansi pemerintah, swasta sampai untuk tempat resepsi perkawinan warga non pribumi. Yang terakhir ini kemudian mengundang reaksi masyarakat menentangnya, hingga sejak 2 tahun lalu gedung ini tidak lagi dipakai untuk tempat resepsi perkawinan itu. Gedung Merdeka ini cukup laris karena taripnya memang miring. Aula Hotel Homan misalnya memasang tarip Rp 150 ribu sedang Gedung Merdeka hanya sepertiganya. Sesudah Kenop 15 tarip ini memang naik, tapi masih di bawah Rp 100 ribu hingga gedung ini paling populer di sewa berbagai panitia pencari dana. Dibangun pada 1879 oleh 2 arsitek Belanda Van Galenlast dan Wolf Schoemaker, gedung ini didirikan oleh Societeit Concordia, perkumpulan opsir Belanda untuk tempat hiburan mereka. Dan di zaman itu, ketika Bandung dikenal sebagai Parijs van Java, gedung tersebut pernah merupakan bangunan paling ternama di kawasan Priangan, ramai dikunjungi para pemilik perkebunan teh, kina dan karet. Lantai dansa dan ruangan umum terbuat dari marmer Italia, sedang lantai ruangan minum dan duduk memakai eikenhout, kwalitas kayu yang melebihi jati. Lampu-lampu hias kristal menerangi ruangan tempat berkumpulnya cabang atas Belanda waktu itu. Kini, lampu kristal sudah berganti dengan lampu neon, sedang eikenhout telah diganti tegel buatan Cimindi. Tentara penduduk Jepang tetap menggunakan gedung ini sebagai tempat pertemuan dengan nama Dai Toa Kaikan. Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda kita menggunakannya sebagai markas perjuangan, dan pemerintah Kotapraja Bandung kemudian sempat memanfaatkan sebagian gedung ini. Beberapa pertemuan, misalnya Musyawarah Antar Kotapraja Seluruh Indonesia 1952 diselenggarakan di sini. Societeit Concordia semula menolak waktu pemerintah ingin membeli gedung ini untuk tempat penyelenggaraan Konperensi Asia-Afrika. Tapi setelah mereka dihadapkan dengan kemungkinan pengambilalihan demi kepentingan negara, mereka setuju. Dalam waktu 3 bulan, Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat di bawah Srigati Santoso merubah ruangan-ruangan gedung ini supaya sesuai dengan keperluan konperensi. Dinas Pos dan Telekomunikasi melengkpinya dengan cabang kantor pos dan hubungan telepon langsung ke kota-kota penting Eropa dan Amerika serta memasang sistim pengeras suara. Presiden Soekarno kemudian memutuskan nama Gedung Merdeka mengganti Concordia serta Jalan Raya Timur &#8212; di mana gedung itu terletak menjadi Jalan Asia-Afrika. Untuk melengkapinya, gedung Dana Pensiun milik Departemen Keuangan dipakai juga untuk keperluan konperensi dengan nama baru Gedung Dwiwarna. Sekitar 10 hari menjelang Konperensi, Roeslan Abdulgani yang menjabat Ketua Sekretariat Bersama negara sponsor konperensi mendadak melapor pada PM Ali Sastroamidjojo ada persoalan yang hanya bisa diatasi oleh PM. Ternyata setelah meninjau persiapan konperensi pada 7 April 1955, Presiden Soekarno tidak setuju dengan bentuk tempat duduk para delegasi di ruangan utama dan minta supaya dibongkar dan dirubah. Kabarnya karena arsitek Silaban yang mendampingi kunjungan Presiden menganggap bentuk itu salah. Terpaksa PM Ali menghadap Presiden dan menjelaskan hal itu tidak mungkin terlaksana karena waktu yang mendesak. Bung Karno bisa mengerti tapi minta agar proyek restoran Asia-Afrika yang telah dimulai Silaban hendaknya diteruskan. Ali Sastroamidjojo berkeberatan karena tiadanya dana serta terbatasnya waktu. Semua perubahan yang diusulkan Bung Karno akhirnya tidak bisa dilaksanakan. Seusai Pemilu, pada Desember 1955 Gedung Merdeka menjadi Gedung Konstituante. Setelah Konstituante gagal menyusun UUD dan kemudian dibubarkan Presiden, bangunan ini sempat dijadikan gedung Dewan Perancang Nasional sebelum akhirnya menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) sampai MPRS menempati gedung baru di Jakarta. Setelah peristiwa Gestapu/PKI Gedung Merdeka berada dalam penguasaan militer dan ruangan belakang dan bawah sampai 1978 dipakai sebagai tempat tahanan Gestapu/PKI. Kini ruang belakang ini direncanakan akan dijadikan ruang perpustakaan oleh Kanwil P&amp;K Jawa Barat. Departemen P&amp;K pernah minta agar gedung ini dijadikan Gedung Budaya sedang Departemen Luar Negeri minta menjadikannya Museum. Pemerintah kabarnya telah memutuskan untuk memugar gedung ini dan menjadikan sebagian darinya museum. Tahun depan, dalam rangka peringatan Seperempat Abad Konperensi Asia Afrika, Gedung Merdeka akan dipergunakan untuk Konperensi Asian-African Legal Council. Rupanya, kesadaran untuk mengabadikan konperensi bersejarah ini akan terlaksana juga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/510/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/510/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=510&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/kenangan-manis-sebuah-sejarah-kaa-1955/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/bandung3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">bandung3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Pulang Dari Nirbaya (Bung Tomo)</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/mereka-pulang-dari-nirbaya-bung-tomo/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/mereka-pulang-dari-nirbaya-bung-tomo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 07:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 14 April 1979. BUNG Tomo, 58 tahun, lagi sembahyang maghrib di kamar tahanan ketika sedan Primier biru metalic B 1583 EG masuk halaman perkampungan tahanan Nirbaya di pinggir selatan Jakarta, Senin sore kemarin. Isteri dan ketiga anak Bung Tomo turun. Mereka menjemput Bung Tomo yang hari itu bebas setelah ditahan setahun. Tepat jam 19.00, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=508&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 14 April 1979. BUNG Tomo, 58 tahun, lagi sembahyang maghrib di kamar tahanan ketika sedan Primier biru metalic B 1583 EG masuk halaman perkampungan tahanan Nirbaya di pinggir selatan Jakarta, Senin sore kemarin. Isteri dan ketiga anak Bung Tomo turun. Mereka menjemput Bung Tomo yang hari itu bebas setelah ditahan setahun. Tepat jam 19.00, menjelang Isya, Bung Tomo keluar. Wajahnya gembira, ia tampak lebih sehat tapi tambah gendut. &#8220;Habis, di sini makan melulu. Lagi pula ada larangan dokter untuk senam, &#8221; katanya setengah berteriak. Ia mengenakan baju hangat dari wool abu-abu. Ada 7 tas dan 3 ember plastik, 1 koper dan 1 ranjang lipat dibawanya pulang. Juga sebuah kompor. Selama ditahan ia memang suka memanaskan sayur kiriman isterinya atau menggoreng telur sendiri. Tampaknya ia tidak kesepian. Sebab ada hikmah paling besar yang dirasakannya, ialah jiwanya yang semakin dekat kepada Tuhan. &#8220;Sembahyang di Nirbaya rasanya lebih tenang dan mantap,&#8221; katanya. <span id="more-508"></span>Banyak penghuni Nirbaya yang menganggap Bung Tomo aneh. &#8220;Saya juga dikira cengeng, karena suka nangis,&#8221; katanya lagi. Terutama, katanya, ketika bendera Merah Putih dikibarkan di halaman Nirbaya pada peringatan 17 Agustus. &#8220;Bendera itu bikinan isteri saya sendiri,&#8221; tuturnya. Pagi hari, setiap kali sang bendera dikerek, Bung Tomo mengambil &#8220;sikap hormat&#8221; dari kamar tahanannya yang berjarak 100 meter dari halaman upacara. Bersama Bung Tomo, ada 2 tokoh lagi yang juga bebas: Wakil Sekjen PPP Mahbub Djunaidi, 46 tahun, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Ismail Suny, 49 tahun. Ketiganya dituduh subversi dan ditahan setahun. Belakangan menurut seorang pejabat tinggi Hankam, mereka dituduh &#8220;menghasut mahasiswa.&#8221; Cuma Mahbub yang harus berbaring 11 bulan di RS Gatot Subroto karena menderita darah tinggi. Pembebasan itu diungkapkan oleh Jaksa Agung Ali Said sesaat setelah menghadiri pelantikan Badan Pembina Pelaksanaan Pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) di Istana Negara Senin paginya. Menurut Ali Said, berdasarkan pemeriksaan sementara tak ada alasan lagi menahan mereka bertiga. &#8220;Mereka bebas tanpa syarat,&#8221; katanya. Penjual Tulisan Senin siang itu, ketiga tahanan dibawa ke Kejaksaan Agung, diterima oleh Asisten Khusus Jaksa Agung, Singgih. Mereka menerima surat pembebasan. &#8220;Sebagai ahli hukum, saya sudah tahu sebelumnya tentang pembebasan ini. Penahanan perkara subversi paling lama kan setahun,&#8221; ujar Suny. Mahbub, meski tampak agak kurusan tapi gembira. Tekanan darahnya yang dulu mencapai 200, sudah mereda sclitar 140 dan 150. Yang paling tampak cerah adalah Bung Tomo. Begitu istrinya datang ke Kejaksaan Agung, kontan Bung Tomo membopongnya. &#8220;Ini sudah, nazar saya. Kalau saya bebas, saya akan membopong isteri saya. Dialah yang begitu tabah setiap hari menengok dan mengirim makanan ke Nirbaya,&#8221; katanya. Dari Kejaksaan Agung, mereka kembali ke Nirbaya. Siang itu juga, Mahbub dan Suny pulang, sementara Bung Tomo menunggu jemputan keluarga sampai sore hari. Mahbub tak menduga bakal bebas ketika Senin siang itu dibawa petugas ke kejaksaan Agung. Dua hari sebelumnya saya masih diperiksa perkara subversi itu,&#8221; katanya kepada Karni Ilyas dari TEMPO. Tuduhan itu, menurut cerita kolumnis Mahbub, bukan lantaran tulisan-tulisannya. Tapi karena pembicaraannya di beberapa seminar dan diskusi, juga waktu kampanye untuk PP. Apa rencananya kini? &#8220;Menulis,&#8221; jawabnya &#8220;Saya ini tukang jual tulisan. Selama masih ada yang mau membeli saya akan tetap menjual,&#8221; tambahnya. Dan selama dalam tahanan, &#8220;si penjual tulisan&#8221; ini ternyata berhasil menterjemahkan buku The Road to Ramadhan karangan wartawan Mesir Hassanain Heikal, yang sudah ia kirim kesebuah penerbit di Bandung. Ia juga sempat menulis novel, &#8220;tapi tak sempat menulis artikel,&#8221; katanya. Betapa pun, yang paling gembira tampaknya Ny. Tuti, isteri Mahbub yang di Pasar Minggu, Jakarta. Pembebasan suaminya, bagi Tuti &#8220;melebihi masa penganten, karena dari duka menjadi bahagia,&#8221; katanya. &#8220;Dua bulan lalu mas Mahbub pingsan di kamar mandi rumah sakit, tak ada yang tahu. Tapi kemudian siuman sendiri.&#8221; Ismail Suny, dengan Mercedes putih 220 S, pulang ke rumahnya di Jalan Jenggala Kebayoran Baru. Ia juga tampak lebih sehat. &#8220;Dengan badminton tiap hari, berat badan saya turun. Dulu 72 kg, sekarang 66 kg,&#8221; katanya kepada A. Margana dari TEMPO. Selama ditahan ia tak sulit mendapat bacaan, terutama buku-buku ilmiah.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=508&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/mereka-pulang-dari-nirbaya-bung-tomo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhirnya, Mesir-Israel Damai</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/akhirnya-mesir-israel-damai/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/akhirnya-mesir-israel-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 07:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 31 Maret 1979. DOA dan kerja keras Presiden Carter lima hari di Timur Tengah memperlihatkan hasilnya awal pekan ini. Yaitu Presiden Sadat dan Perdana Menteri Begin menandatangani perjanjian damai Israel-Mesir di Gedung Putih. Di tengah kemarahan sebagian besar pemimpin negara Arab, Sadat secara resmi mengakui Israel setelah 30 tahun menolak kehadirannya lewat 4 perang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=506&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 31 Maret 1979. DOA dan kerja keras Presiden Carter lima hari di Timur Tengah memperlihatkan hasilnya awal pekan ini. Yaitu Presiden Sadat dan Perdana Menteri Begin menandatangani perjanjian damai Israel-Mesir di Gedung Putih. Di tengah kemarahan sebagian besar pemimpin negara Arab, Sadat secara resmi mengakui Israel setelah 30 tahun menolak kehadirannya lewat 4 perang besar mahal dan menelan banyak jiwa. Di Washington Sadat dan Begin dieluh-eluhkan sebagai &#8220;pahlawan perdamaian.&#8221; Tapi yang secara langsung menikmati perjanjian damai itu Carter sendiri. Ketika bertolak ke Timur Tengah awal Maret, popularitas Carter sudah melorot hingga cuma 37%. Kebijaksanaan dalam negerinya &#8212; inflasi dan pengangguran &#8212; dan kegagalannya di Iran secara bersama membuatnya tidak populer. Dengan nyali yang besar, Carter menerobos kemacetan pelaksanaan persetujuan Camp David. Di Mesir ia diterima Sadat yang sangat butuh damai. Di Israel Carter berhasil meyakinkan Begin akan kesempatan bagus lewat kesempatan damai yang tersedia. Para ahli masih belum melaporkan perkembangan terakhir popularitas Carter selepas kunjungannya ke Timur Tengah.<span id="more-506"></span> Tapi bisa dipastikan grafiknya bakal menaik. John White, Ketua Komite Nasional Partai Demokrat &#8212; dan seorang pendukung Carter &#8211;berkata pekan silam &#8220;Saya menasehatkan orang-orang Republik itu untuk mencari isyu baru dalam menyerang Carter. Isyu lama, pemimpin lembek, kini tidak laku lagi.&#8221; Tim Hagan, seorang tokoh Demokrat dari Ohio bahkan lebih yakin. Spekulasinya: &#8220;Carter akan menyingkirkan semua mereka yang berniat memperebukan kursi kepresidenan pada pemilu mendatang. &#8221; Ketika suasana pesta masih meliputi Gedung Putih, awan gelap kemarahan menggantung rendah di Timur Tengah. Pernyataan keras dan kasar beterbangan ke alamat Sadat dan Carter. Para pemimpin Arab saling berkunjung dan berdiskusi mengenai langkah mereka untuk menggagalkan Sadat &#8220;menjual Palestina kepada Carter dan Begin.&#8221; Amarah Arab Liga Arab bersidang di Mogadishu ketika Sadat masih dalam perjalanan ke Washington. Di sana memang belum diambil keputusan apa pun, tapi bahwa Liga Arab akan memindahkan pusatnya dari Kairo nampaknya tidak merupakan spekulasi lagi. Di Bagdad pertemuan sedang dipersiapkan. Tapi di Suria bahkan sebelum pesta bermula di Washington, Menlu Andrei Gromyko secara mendadak sudah mendarat. Selama 3 hari pembesar Moskow ini secara amat intensif berunding dengan Presiden Assad dan Pemimpin Palestina Yasser Arafat. &#8220;Kami adalah sahabat Suria dan semua bangsa Arab. Kami di sini membicarakan langkah pencegahan terhadap pengkhianatan Presiden Sadat kepada bangsa Arab,&#8221; kata Gromyko. Di Beirut, sepulangnya dari Damaskus, Yasser Arafat menjelaskan: &#8220;Saya telah menyarankan agar dilakukan boikot ekonomi terhadap Mesir.&#8221; Para wartawan mencatat bahwa itulah untuk pertama kalinya Arafat yang moderat itu berbicara keras mengenai Mesir. Arafat bukan satu-satunya orang Palestina yang menyatakan kemarahan terhadap perjanjian damai Mesir-lsrael. Bersama dengan tokoh-tokoh Palestina di perantauan, di wilayah pendudukan Israel sendiri terjadi reaksi yang bahkan berbentuk huru-hara. Di berbagai kota di tepian Barat terjadi demonstrasi. Tentara dan kendaraan Israel dilempari batu, 2 orang Palestina tewas tertembak. &#8220;Perjanjian itu tidak akan menghasilkan apa-apa,&#8221; kata Elias Freij, walikota Bethlehem. ,&#8221;Pemerintahan sendiri yang mereka setujui di Washington itu tidak serius. Israel pasti tidak akan memberi kesempatan,&#8221; kata Dr Haydar Abdel Shafi, ketua Palang Merah Gaza. Orang Palestina punya alasan kuat untuk pesimis. Beberapa hari sebelum berangkat ke Washington, Begin dengan tandas membantah tafsiran Perdana Menteri Mesir, Dr Mustafa Khalil, terhadap perjanjian damai itu. Kata Begin &#8220;Dr Khalil, Israel tidak akan kembali ke tapal batas sebelum perang tahun 1967. Kedua, Dr Khalil &#8212; perhatikan ucapan saya &#8212; Yerusalem yang bersatu sekarang ini, tidak akan dibagi dua lagi. Ketiga, Dr Khalil, di Yudea, Samaria dan Gaza tidak akan pernah berdiri sebuah negara Palestina.&#8221; Di Kairo, keesokan harinya, dengan dingin Dr Khalil memberikan komentarnya &#8220;Jangan terlalu menaruh di hati ucapan pembesar Israel itu. Yang penting apa yang tertulis dalam persetujuan damai.&#8221; Naskah yang disepakati memang menyebut akan adanya saat pemerintahan sendiri bagi orang-orang Palestina, tapi di sana Israel tidak secara jelas diikat dengan batas waktu. Bahkan ketentuan mengenai proses ke arah masa persiapan saat berdirinya pemerintahan itu masih sejak semula merupakan kalimat-kalimat yang ditafsirkan secara berbeda oleh kedua belah pihak. Keseretan perundingan damai Mesir-lsrael sejak September hingga kunjungan Carter awal Maret ini terutama karena Kairo-Yerusalem belum sepakat mengenai hal yang secara langsung menyangkut kepentingan mereka. Ini terbukti dari kenyataan bahwa dalam hal yang menyangkut orang Palestina dan hari depan mereka, tidak ada perubahan dari naskah asli persetujuan Camp David, yang dari semula memang amat tidak menguntungkan orang-orang Palestina itu. Tafsiran Begin Dalam keadaan demikian, kemarahan orang Palestina dan para pemimpin Arab mudah dimengerti. Tapi yang nampaknya juga harus dimengerti adalah posisi Sadat. Perekonomian Mesir yang amat parah &#8212; inflasi 20 persen dan defisit perdagangan lebih dari 2,5 milyar dolar &#8211; memaksa presiden Mesir itu untuk menjauhi perang dan mengejar damai. Mesir selama ini memang menerima bantuan sebesar 3 milyar dolar dari Arab Saudi dan negara Teluk Parsi lainnya. Tapi bantuan yang cuma cukup untuk konsumsi bagi penduduk Mesir yang berkembang cepat, tidak akan pernah bisa diharapkan menolong ekonomi yang terus memburuk. &#8220;Untuk pembangunan ekonomi, Mesir perlu memperkuat nilai uangnya. Untuk itu perlu investasi modal asing. Dan modal asing cuma akan masuk jika ada prospek damai dan stabilitas politik.&#8221; Demikian analisa Abdel Moneim Qaissuni, penasehat ekonomi Sadat. Dengan bantuan ekonomi &#8212; juga militer &#8212; dari Amerika Serikat (sekarang 8 milyar dollar setahun, ditambah nantinya sesudah damai 2 milyar bantuan militer dan setengah milyar lagi untuk ekonomi selama 3 tahun) Sadat melihat perjanjian damai itu sebagai jalan keluar. Di Washington, beberapa jam sebelum menandatangani perjanjian damai itu, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah pengusaha besar sebagai jalan keluar. Di Washington, beberapa jam sebelum menandatangani perjanjian damai itu, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah pengusaha besar. Masihkah dipertanyakan apakah nantinya Mesir &#8212; dengan kedutaan Israel di Kairo &#8212; tenang membangun ekonominya. Negara-negara Arab radikal dan orang-orang Palestina berjanji menggagalkan perdamaian itu, bahkan berniat membunuh Sadat, atau paling sedikit mengusahakan penggulingannya. Yang pasti mudah mereka lakukan adalah mengisolir Mesir secara ekonomis dan politik. Tapi usaha seperti ini rasanya sudah diperhitungkan Mesir. Yang nampaknya bakal berat bagi Sadat ialah jika ternyata kemudian ia tidak berhasil dengan cepat mengatasi masalah dalam negeri Mesir &#8212; politik maupun ekonomi &#8212; sementara Israel terus pula berkeras kepala memaksakan tafsirannya terhadap persetujuan damai seperti yang selama ini mereka lakukan.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=506&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/akhirnya-mesir-israel-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harjowiadi Diundang Ke Jakarta</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/harjowiadi-diundang-ke-jakarta/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/harjowiadi-diundang-ke-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 07:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 24 Maret 1979. KETIKA Letkol Soeharto datang dengan pasukannya 16 Pebruari 1949 di Bibis, Harjowiadi (69 tahun) menyediakan rumahnya untuk markas. &#8220;Ruang depan ini dipakai tidur. Ruang belakang untuk menyimpan barang,&#8221; katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Apa misalnya? &#8220;Ada candu, ada senapan dan satu karung uang,&#8221; katanya. &#8220;Uang ori, bukan uang Belanda,&#8221; tambahnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=504&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 24 Maret 1979. KETIKA Letkol Soeharto datang dengan pasukannya 16 Pebruari 1949 di Bibis, Harjowiadi (69 tahun) menyediakan rumahnya untuk markas. &#8220;Ruang depan ini dipakai tidur. Ruang belakang untuk menyimpan barang,&#8221; katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Apa misalnya? &#8220;Ada candu, ada senapan dan satu karung uang,&#8221; katanya. &#8220;Uang ori, bukan uang Belanda,&#8221; tambahnya. Maksudnya Oeang Republik Indonesia. &#8220;Yang mencarikan makanan buat pak Harto dan pasukannya saya sendiri. Dibantu penduduk dukuh, pak Harto betah di sini sampai berhasil merebut Yogyakarta&#8221; &#8212; begitu tutur Harjowiadi. Setelah selesai masa perjuangan, baru 5 Maret itu Soeharto sebagai presiden mengunjungi Dukuh Bibis lagi. Harjowiadi menuturkan, setiap tahun selalu dipanggil Pak Harto ke Cendana. Panggilan biasanya lewat Korem. Kadangkala untuk berhalal-bihalal lebaran, terkadang panggilan khusus. &#8220;Tahun lalu (1978) dua kali saya dipanggil ke Jakarta,&#8221; katanya. Naik apa? &#8220;Tinggal berangkat naik pesawat,&#8221; katanya. <span id="more-504"></span>Kadangkala ada petugas menemani. Atau sendirian, setelah diantar sampai di tangga pesawat. &#8220;Begitu turun di Jakarta, saya menuju petugas telepon. Saya suruh menelepon Cendana untuk menjernput saya,&#8221; katanya lagi. Pernah sekali, petugas telepon di lapangan Jakarta (tidak ingat persis Kemayoran atau Halim) tidak berani menyambung hubungan ke Cendana. Kepala dukuh yang necis ini lalu memutar sendiri nomor pesawat Cendana. Tak lebih dari sejam datang petugas menjemputnya. Di Cendana, Harjowiadi tak begitu saja nyelonong masuk halaman rumah kediaman Presiden dan keluarganya itu. &#8220;Saya harus lapor dulu ke penjagaan. Setelah ajudan Pak Harto dipanggil, semuanya beres,&#8221; kata sang kepala dukuh. &#8220;Penjagaan itu kan tiap minggu diganti. Saya tak kenal orangnya. Tapi ajudan Pak Harto, kenal semua, siapa saya,&#8221; tambahnya. Apa saja dibicarakan dengan Pak Harto? &#8220;Macam-macam. Pak Harto tanya, bagaimana keadaan di sawah. Juga sering tanya, bagaimana pemerintahan sekarang,&#8221; tutur Harjowiadi. &#8220;Saya saling hormat menghormati. Walau Pak Harto lebih muda, saya panggil bapak, kan jadi presiden. Sedang pak Harto memanggil saya juga pakai bapak, Pak Dukuh, begitu.&#8221; &#8220;Tapi saya tak mau tidur di Cendana. Di sana orang sibuk bekerja. Saya tidur di Cempaka Putih,&#8221; katanya tanpa menyebut rumah siapa di Cempaka Putih itu. Apa diberi hadiah oleh Pak Harto? &#8220;Yah, kadang-kadang bekal uang. Tapi tak banyak, paling Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu.&#8221; Harjowiadi punya 7 anak dan 15 cucu. Isterinya meninggal 1976. Anak ketiga bernama Ngaliman. Ia gugur dengan pangkat sersan di Timor Timur 5 Mei 1975. &#8220;Berita kematiannya saya terima seminggu setelah gugur. Sampai sekarang kuburannya masih di sana,&#8221; kata Harjowiadi. Anak Kepala Dukuh Bibis keempat juga tentara berpangkat sersan. Diberi nama Suharto. Sersan Suharto juga ikut ke Timor Timur dari kesatuan Batalion 407. Sekarang ada di Markas Kowilhan II. Anaknya yang lain ada yang jadi pemborong. &#8220;Tapi pembangunan monumen Bibis ini bukan dihorong anak saya,&#8221; kata Harjowiadi. Setelah ditinggal mati isterinya Harjowiadi ditemani cucu dari anak perempuannya, yang kebetulan masih di Dukuh Bibis. Setiap harinya ia membersihkan monumen itu. &#8220;Yah ini monumen, ini rumah saya,&#8221; katanya. Ada keluhan pak &#8220;Ada. Saya ini katanya diangkat jadi veteran, tapi sampai sekarang belum pernah terima bantuan apa-apa,&#8221; katanya ceplas-ceplos.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=504&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/harjowiadi-diundang-ke-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu Revolusi Babak Ke-II (Revolusi Iran 1979)</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/menunggu-revolusi-babak-ke-ii-revolusi-iran-1979/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/menunggu-revolusi-babak-ke-ii-revolusi-iran-1979/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 07:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=500</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 10 Maret 1979. DI TEHERAN orang tak lagi berkumpul di sekolah puteli yang pernah dikosongkan untuk jadi markas revolusi penggulingan Shah Iran. Ayatullah Khomeini kini sudah berada di Qum, 160 Km dari ibukota, kota suci tempat 16 tanun yang lalu ia mengajar di madrasahnya. Awal Maret ini di depan ribuan orang yang mengelu-elukannya ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=500&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/menunggu-revolusi-babak-ke-ii-revolusi-iran-1979/khomeini_in_mehrabad/" rel="attachment wp-att-501"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-501" title="Khomeini_in_Mehrabad" src="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/khomeini_in_mehrabad.jpg?w=113&#038;h=150" alt="" width="113" height="150" /></a>Tempo 10 Maret 1979. DI TEHERAN orang tak lagi berkumpul di sekolah puteli yang pernah dikosongkan untuk jadi markas revolusi penggulingan Shah Iran. Ayatullah Khomeini kini sudah berada di Qum, 160 Km dari ibukota, kota suci tempat 16 tanun yang lalu ia mengajar di madrasahnya. Awal Maret ini di depan ribuan orang yang mengelu-elukannya ia berpislato: &#8220;Sisa hidup saya, satu atau dua tahun lagi, akan saya manfaatkan menggerakkan kalian meneruskan perjuangan ini.&#8221; Ia sendiri, seperti dinyatakannya dulu, seraya menolak duduk dalam pemerinahan, akan tetap menjadi semacam pengawas dan pembimbing jalannya revolusi Iran ke arah &#8220;Republik Islam.&#8221; Ia sampai sejauh kini tetap menyatakan restunya kepada pemerintah sementara di Bazargan, yang sesungguhnya tidak nampak &#8220;revolusioner&#8221; benar (lihat hal 10). Ia ada mengakui kelemahan dan kesalahan pemerintah ini. Namun ia nampaknya harus mengelakkan benih-benih perpecahan antara pemerintah Bazargan dengan &#8220;Dewan Kevolusi Islam&#8221; yang susunannya tetap diliputi rahasia sejak dibentuk menjelang ia kembali ke Iran dari Perancis tempo hari.<span id="more-500"></span> &#8220;Dewan Revolusi&#8221; inilah antara lain yang memutuskan hukuman mati buat sejumlah jenderal penyokong Shah, sementara Bazargan &#8212; seorang pejuang hak-hak asasi manusia yang pernah menghadapi rezim Shah dulu &#8212; kurang suka dengan cara revolusioner itu. Bazargan sendiri-di samping mencoba bertahan, juga harus membereskan situasi politik dan terutama ekonomi Iran yang porak poranda. Akhir bulan ini ia harus menyiapkan referandum, pemungutan suara rakyat tentang masa depan Iran. Tapi kas negara kosong. Pekan lalu dikabarkan ia mendevaluasikan mata uang Iran, dan dengan susah payah memulai ekspor minyak kembali &#8212; setelah membujuk buruh minyak jangan terus mogok. Di banyak tempat, wibawa dan kekuasaannya diuji. Revolusi menyebabkan di mana-mana orang membentuk kelompok-kelompok, yang tak selalu taat kepada perintah dari atas. &#8216;Kan sudah merdeka? Namun kesulitan pemerintah sementara yang terbesar, ialah menghadapi masalah angkatan bersenjata. Angkatan bersenjata Iran yang bersenjata serba modern telah lumpuh &#8212; dengan korban yang sangat kecil. Tentara yang diunggulkan Shah waktu masih berkuasa itu tak dibekali dasar yang kokoh untuk menghadapi revolusi yang digerakkan oleh para ulama tua. Shah sebagai panglima tertinggi tak memberi kesempatan koordinasi &#8216;antar angkatan dan antar pasukan &#8212; semuanya ia urus sendiri, mungkin takut tentara bisa menggulingkannya. Juga Shah hanya memberi pegangan kepada mereka satu hal: kesetiaan kepada dirinya. Begitu dirinya pergi, rontoklah tujuan tentara. Meskipun demikian, seraya menangkapi dan mencopot perwira-perwira lama, Bazargan tetap harus menampung sebagian besar pasukan. Juga untuk Garda Nasional yang dibentuknya. Namun justru itulah yang ditolak oleh dua kelompok revolusioner yang penting: grup Fedayin yang Marxistis dan grup Mujahiddin yang Muslim. Kelompok anak-anak muda ini bahkan menolak seruan Khomeini agar senjata yang pernah direbut dari tentara dikembalikan. Iran dengan demikian diancam pertikaian, dan mungkin revolusi baru. Bazargan, siapa tahu, akan mengambil sikap yang sama dengan sikap Perdana Menteri Bakhtiar yang telah digulingkan itu &#8211;dengan menggunakan tentara yang ada buat menghadapi para pemuda ini. Dan siapa tahu Bazargan akan menemui nasib seperti Bakhtiar, teman sekuliahnya di Perancis sekitar 40 tahun yang silam. Setidaknya ada semacam konflik antar generasi yang bisa akan mengubah Iran &#8212; seperti dicemaskan Bazargan &#8212; jadi &#8220;Lebanon kedua.&#8221; Perang saudara yang panjang. Markas besar Fedayin dan Mujahiddin terdapat di gedung Fakultas Teknik di Universitas Teheran yang di depannya dijaga dengan barikade. Fedayin di sebelah kiri dan Mujahiddin di sebelah kanan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah mesjid kecil yang mungil yang dijadikan tempat menyimpan barang-barang yang dirampas dari tangsi polisi dan barak tentara. Di pekarangan di depan kedua markas besar itu kabar angin dan yang resmi bersimpang-siur. Sejak hari Minggu 19 Pebruari kedua markas itu memang berangsung-angsur dipindahkan, karena universitas itu dibuka kembali &#8212; seperti dikehendaki pemerintah Bazargan. Tapi siapa yang pernah mencicipi suasana revolusi-tanpa-kuliah-dan jadi-pahlawan tentu akan tahu betapa sukarnya menertibkan kampus. Dan kampus itu memang tetap menjadi pusat perhatian, karena di sanalah laboratorium politik para pemuda itu. Fikiran Marx, Lenin, Che Guevara dan juga pemikir Iran Ali Shariati dimamah-biak. Di luar kampus bahkan gambar Marx dijual dalam ukuran sebesar gambar Khomeini &#8212; dan pengaruh golongan kiri meluas konon sampai ke kalangan buruh perminyakan. BAIK Fedayin maupun Mujahiddin jadi terkenal karena peranannya dalam &#8220;pertempuran tiga hari di Teheran&#8221; melawan tentara Shah dan pemerintah Bakhtiar. Bahkan pertempuran itu adalah hasil gebrakan mereka. Dengan dibantu oleh kadet-kadet teknisi Angkatan Udara (Homafar), para pemuda bersenjata bergerak. Dunia luar memang mendengar cerita lain: dikatakan bahwa Javidan, pasukan pengawal Raja, menyerang tangsi Homafar di Doshan Tappeh, dekat Farahabad. Tapi sumber-sumber TEMPO mengatakan bahwa serbuan dimulai oleh Fedayin, Mujahiddin dan para kadet. Tujuan serbuan itu adalah untuk mentorpedo usaha pendekatan yang diadakan oleh Bakhtiar dengan Bazargan. Ayatullah Khomeini sendiri memang condong tidak melakukan jalan kekerasan &#8212; seorang pengikutnya menyebut sang ulama sebagai &#8220;Gandhi dari Iran.&#8221; Maka ada kemungkinan pendekatan berhasil. Soalnya bukan saja karena Bakhtiar adalah kawan seperjuangan Bazargan dalam melawan Shah dulu. Baargan tak menyetujui sikap Bakhtiar yang menerima pengangkatan Shah tempo hari, tapi ia tetap menyebut Bakhtiar seorang &#8220;patriot&#8221;. Dan Bakhtiar, yang kini nasibnya tak diketahui, di saat-saat terakhir itu nampak sudah sedia menyerah kepada desakan kaum revolusioner. Dalam konferensi persnya hari Kamis Pebruari, Bakhtiar mengumumkan ia bersedia menerima hasil referandum, yang kalau perlu boleh diselenggarakan oleh pihak Khomeini. Dengan itu korban lebih besar akan dihindarkan, tapi Fedayin dan Mujahiddin berpendapat lain. Bagi mereka, berhasilnya kesefakatan Bazargan, Bakhtiar dan Khomeini akan menyebabkan revolusi Iran haya ditentukan oleh orang-orang tua yang berunding itu. Lagipula anak-anak muda itu tahu ahwa suatu pertempuran dengan Javian tak akan meluas. Javidan adalah paukan istimewa yang diperlakukan istiewa pula oleh Shah, dan kabarnya menimbulkan iri hati pasukan lain. Sementara itu atas desakan Amerika Serikat angkatan bersenjata Iran tak akan meliatkan seluruh kesatuannya bertempur melawan revolusi. Sebab kalaupun tentara menang, mereka tetap akan harus menghadapi permusuhan seluruh Iran. Perhitungan Fedayin dan Mujahiddin benar. Setelah bertempur sebentar Javian, yang tak punya tujuan jelas lagi dalam bertempur, menyerah. Bantuan dari pasukan lain tidak dikirimkan. Maah seluruh angkatan perang cepat-cepat menyerah. Agaknya untuk menghindaran malapetaka yang lebih besar. Dan setelah pertempuran tiga hari, Bakhtiar mundur. Ada yang menduga ia sebenarnya dilindungi oleh Bazargan &#8212; tanpa sepengetahuan Khomeini. Tapi bagaimana pun nasib Bakhtiar, yang jelas nasib Fedayin dan Mujahiddin lebih baik: mereka jadi pahlawan. Dan bukan cuma itu. Mereka juga berhasil memperluas basis mereka. Soalnya, dalam pertempuran yang berlangsung tak sampai sepekan itu mereka mengikut-sertakan orang banyak. Berbeda dengan gerilyawan Tupamaros di Uruguay yang melakukan pertempuran sendiri saja, maka Fedayin dan Mujahiddin dalam pertempuran Teheran hanya bertindak sebagai pembuka jalan. Mereka memimpin misalnya pengepung an tangsi polisi, dan segera setelah tangsi berhasil direbut &#8212; biasanya hampir tanpa perlawanan berarti &#8211;mereka persilakan rakyat mendudukinya dan merebut senjata. Tak kurang dari seratus ribu pucuk senjata yang jatuh ke tangan orang banyak. Berbeda dengan seruan Khomeini, orang-orang Fedayin dan Mujahiddin tak menganjurkan agar senjata dikembalikan. Mereka malah meminta agar orang sipil yang telah pegang senjata dan bisa menggunakannya, supaya membentuk kelompok-kelompok gerilya. Kelompok itu diminta bergabung dengan mereka. Seruan ini berhasil. Selama beberapa hari ini banyak orang datang ke markas besar mereka, setelah membentuk grup gerilya. Lalu mereka tinggal tunggu perintah. Yang lain dilatih dalam kursus kilat untuk memegang dan menembakkan bedil Uzzi atau G-3. Ribuan orang datang memanfaatkan ketrampilan baru yang gagah itu. Dengan semua itu, grup Fedayin dan Mujahiddin makin menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan oleh pemerintah Bazargan. Siapakah gerangan mereka sebenarnya? Mujahiddin sebenarnya bernama lengkap &#8220;Sazman-i Mojahiddin-i Khalq.&#8221; Gerakan ini didirikan 1966, sebagai cabang bersenjata dari &#8220;Gerakan Pembebasan Iran&#8221; yang anggota pendirinya adalah tokoh-tokoh yang tergabung dalam Front Nasional. Hanya saja para tokoh itu mereka anggap loyo. Mereka mendidik anggota muda mereka di kamp-kamp orang Palestina. Mulai 1971, mereka mulai melakukan kegiatan bersenjata di Iran. Sasaran mereka adalah para perwira tinggi Iran yang dinilai kejam. Misalnya Jend. Taheri, yang mereka bunuh di Teheran 1972. Seorang perwira AS, Kol. Lewis Hawkins, yang diperbantukan ke atase militer kedutaan Amerika di Teheran, juga dibunuh di tahun 1973. FEDAYIN agak lain. Ini gabungan dua organisasi gerilya kecil. Yang pertama adalah organisasi yang didirikan di pegunungan Siahkal di utara Iran. Organisasi ini didirikan oleh bekas anggota Partai Komunis Tudeh, yang merasa tak puas dengan lembeknya partai mereka sendiri. Mereka ini juga minta latihan kepada gerilyawan Palestina, terutama dengan kelompok Marxis dalam PLO yang dipimpin George Habbash. Usaha kelompok ini untuk bergerak di pegunungan ternyata tak banyak berhasil. Mereka lalu bergabung dengan organisasi yang kedua, yang bergerak di Teheran, yang didirikan oleh salah seorang anak pengikut Mossadegh. Kesatuan baru ini diberi nama &#8220;Zasman-i Cherikhaye Fedayini&#8221; atau singkatnya Fedayin. Seperti juga Mujahiddin, Fedayin pun melakukan gerilya kota. Mereka menembak mati antara lain Mostafa Fatek, seorang pemilik perusahaan besar yang konon pernah memerintahkan polisi untuk menembaki buruh yang sedang mogok. Banyak persamaan antara Fedayin dengan Mujahiddin. Namun dasar mereka jelas berbeda. Mujahiddin menyatakan tidak menolak beberapa fikiran orang Marxis, tapi menolak &#8220;landasan Marxisme yang materialistis.&#8221; Mereka tak sependapat dengan Fedayin bahwa agama hanya hasil fikiran manusia. Keislaman Mujahiddin nampak dengan banyaknya gadis berkerudung dan bercadar &#8212; yang juga belajar pegang senjata. Di kalangan Fedayin, gadis-gadis nampak pakai rok dan jean. Mereka banyaknya mahasiswa dan sarjana tamatan Amerika atau Eropa. Juga karyawan perusahaan swasta. Kedua grup menyatakan saling menghormati perbedaan asas itu. Dalam pelbagai operasi kedua kelompok itu sering pergi berbarengan. Tapi tak selamanya mereka akur betul: kadang berebut menduduki satu tempat lebih dulu dan setelah saling tembak sedikit, para kadet Homafar merukunkan mereka kembali. Ayatullah Khomeini dan Bazargan nampak berusaha untuk tak mempersatukan kedua grup ini. Dalam kampnyenya terakhir misalnya Khomeini dengan samar-samar menuduh Fedayin sebagai anti-agama dan anti-revolusi. Juga dalam pelaksanaan hukuman mati terhadap Jend. Nasiri, pemimpin SAVAK yang dibenci itu, berikut tiga perwira tinggi lainnya, anggota Mujahiddin diminta ikut dalam regu tembak, sementara Fedayin tidak. Namun sejauh ini, kedua grup itu. sama-sama menuntut didirikannya &#8220;tentara rakyat&#8221; &#8211;walaupun Mujahiddin dalam hal itu mula-mula agak ragu. Apakah mereka ini kelak akan berhasil melancarkan revolusi tahap ke-II, untuk kemudian disusul dengan perebutan kekuasaan antar keduanya, entahlah. Revolusi selalu menampakkan indahnya solidaritas sebelum menang. Setelah menang, ia biasa menelan anak-anaknya sendiri.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/500/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/500/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=500&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/menunggu-revolusi-babak-ke-ii-revolusi-iran-1979/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/khomeini_in_mehrabad.jpg?w=113" medium="image">
			<media:title type="html">Khomeini_in_Mehrabad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Garuda Pancasila, Siapa Penciptanya</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/garuda-pancasila-siapa-penciptanya/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/garuda-pancasila-siapa-penciptanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 06:58:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 03 Maret 1979. MENURUT guru saya, pencipta Garuda Pancasila adalah Muhammad Yamin. Tapi dalam buku Bung Hatta Menjawab, beliau menyebutkan penciptanya adalah Sultan Hamid Pontianak. Manakah yang benar?&#8221; tulis seorang murid sekolah di beberapa koran Jakarta belum lama ini. Ya, siapakah pencipta lambang negara ini? Pada 11 Juli 1945, dalam rapat Panitia Perancang Undang-Undang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=496&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/garuda-pancasila-siapa-penciptanya/garuda_pancasila2/" rel="attachment wp-att-497"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-497" title="garuda_pancasila2" src="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/garuda_pancasila2.jpg?w=137&#038;h=150" alt="" width="137" height="150" /></a>Tempo 03 Maret 1979. MENURUT guru saya, pencipta Garuda Pancasila adalah Muhammad Yamin. Tapi dalam buku Bung Hatta Menjawab, beliau menyebutkan penciptanya adalah Sultan Hamid Pontianak.</div>
<div>Manakah yang benar?&#8221; tulis seorang murid sekolah di beberapa koran Jakarta belum lama ini. Ya, siapakah pencipta lambang negara ini? Pada 11 Juli 1945, dalam rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan, anggota Parada Harahap &#8212; seorang wartawan terkenal waktu itu &#8211;mengusulkan agar di samplng menetapkan bendera nasional, UUD juga menentukan &#8220;lambang negara&#8221; (wapen), Usul ini diterima, tapi diputuskan lambang negara ini akan ditentukan dalam Undang-Undang Istimewa, bukan dalam UUD. Sesudah proklamasi kemerdekaan, dibentuk Panita Indonesia Raa diketuai Ki Hajar Dewantara dengan Muhammad Yamin sebagai sekretaris. Tugas panitia ini membuat lambang negara. Tapi karena Yamin ditahan sehubungan dengan Peristiwa 3 Juli 1946, menyebabkan tugas panitia ini tidak selesai. <span id="more-496"></span>Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, persoalan lambang negara ini kembali mendapat perhatian. Dibentuk lagi sebuah Panitia Lencana Negaa yang diketuai Muhammad Yamin dengan anggota, antara lain Sultan Hamid II yang dalam Kabinet RIS menjabat Menteri Negara. Banyak rancangan yang masuk. Ini bisa dilihat dari manuskrip peninggalan Yamin dan Sultan Hamid yang diserahkan dan disimpan Yayasan Idayu Jakarta. Hampir dalam semua rancangan gambar banteng dan garuda muncul, agaknya kedua binatang ini diangxap &#8220;binatang nasional&#8221; yang melambangkan perjuangan bangsa Indonesia. Beberapa rancangan, di samping menuliskan RIS dalam huruf Romawi, juga memakai huruf Arab. Rancangan yang diajukan Sultan Hamid misalnya dinamai Matahari-Bulan atau Syamsiab-Kamariah (Arab) alias Aditya-Candra (Sansekerta). Rancangannya berupa perisai yang di dalamnya tergambar matahari terbit dengan 5 sinar (artinya sumber kodrat Allah yang menurunkan kebahagiaan pada tanah air dan bangsa Indonesia ialah Pemerintah yang berdasarkan Pancasila), bulan sabit yang menyerupai tanduk kepala banteng (lambang perjuangan Islam dan rakyat Indonesia), tujuh garis di air lautan (7 kepulauan Indonesia), 2 pohon kelapa (kesejahteraan dan kemakmuran di darat maupun di laut). Keseluruhan lambang ini menimbulkan kalimat Matahari dilingkari kelapa dan bumi atau bulan yang merupakan candrasengkala angka 1881 (tahun Masehi 1949) yaitu tahun lahirnya RIS. Yamin, dalam merancangkan lambang negara ini berkonsultasi dengan beberapa ahli antara lain D. Ruhl Jr, seorang ahli mengenai lambang dan pernah menulis beberapa buku. Dari manuskrip yang ditinggalkannya, kelihatan bahwa Yamin memilih burung Garuda untuk lambang negara. Beberapa macam bentuk garuda yang terukir pada banyak candi di Indonesia dijadikannya model. Rancangan terakhir dari Yamin yang disetujui panitia mirip sekali dengan Garuda Pancasila sekarang. Perbedaannya adalah bentuk kepala garuda yang membulat tanpa jambul dengan bahu dan tangan mirip manusia yang memegang perisai. Bentuk dan isinya sama dengan lambang negara sekarang. Perbedaan lain: jumlah bulu ekor hanya 7, sedang bulu kecil di bawah perisai dan leher tidak berjumlah 19 dan 45 seperti Garuda Pancasila sekarang. Menurut Yamin, jumlah bulu ekor yang 7 &#8220;menyatakan kesempurnaan tatanegara, seperti semenjak beribu-ribu tahun telah laim lada peradaban Indonesia. Misalnya Saptarajopa (Ramayana), Saptaraja (Sundayana), Saptabrabhu (Majapahit), Kaengpitu (Makasar), Rajo nan tigo slo dan basa ampek balai (Minangkabau). &#8221; Padi &amp; Kapas Dengan nota 10 Pebruari 1950 rancangan ini diajukan pada pemerintah untuk disetujui. Dari nota ini bisa diketahui, dari mana gagasan dicantumkannya gambar padi dan kapas dalam lambang ini yang bahkan dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah no. 176 mengenai Lambang Negara tidak disebutkan. Menurut Yamin pencantuman kedua gambar yang memuji-muji pakaian (sandang) dan makanan (pangan) ini lengkapnya berbunyi Alabumma puji langgeng, Sukma mulia kumpulan badan sempurna, Bapak Adam nyuhun pangan, Ibu Kawa nuhun sandang, Aliha gampang sallahu alaihi wassalam. Nota itu juga mengusulkan agar Presiden memperkenalkan lambang negara itu pada pembukaan sidang DPR RIS 15 Pebruari 1950. Menurut Bung Hatta, rancangan lambang negara ini disahkan dalam sidang kabinet RIS 11 Pebruari 1950 dengan beberapa perubahan. Karena ketika untuk pertama kali diperkenalkan pada umum, pada pembukaan sidang DPR RIS 20 Januari 1950 di Hotel Des Indes, lambang ini telah sempurna, sama dengan Garuda Pancasila sekarang. Dengan terbentuknya negara kesatuan RI, lambang negara yang lebih terkenal sebagai Garuda Pancasila ini disahkan Presiden RI pada 17 Oktober 1951 sebagai Lambang Negara RI. Lalu siapa pencipta semboyan Bhinneka Tunggal Ika? Menurut Bung Hatta, ini ciptaan Bung Karno. Tapi Yamin sendiri mengakui, semboyan ini dikutipnya dari Serat Sutasoma karya Empu Tantular yang ditulis pada pertengahan abad 14 pada zaman keemasan Majapahit. Lengkapnya seloka itu berbunyi: Bhinneka Tunggal Ika, tanhana dharma mangwra (Berbedalah itu, satulah mereka itu dan dalam peraturan undang-undang tidak ada diskriminasi).</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=496&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/17/garuda-pancasila-siapa-penciptanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://peristiwanasional.files.wordpress.com/2011/09/garuda_pancasila2.jpg?w=137" medium="image">
			<media:title type="html">garuda_pancasila2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemarin &#8216;kan Bulan Nopember Jadi &#8230;</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/06/kemarin-kan-bulan-nopember-jadi/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/06/kemarin-kan-bulan-nopember-jadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 08:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partai Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 02 Desember 1978. NOPEMBER, tampaknya merupakan &#8216;bulan pecah&#8217; bagi PDI. Jum&#8217;at 2 Nopember 1977, Achmad Sukarmadidiaja &#8216;memprakarsai&#8217; reshuffle DPP PDI. Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaja diganti oleh Mh. Isnaeni dan Sunawar Sukowati sebagai ketua umum dan ketua. Tapi waktu itu baik kelompok Sanusi-Usep maupun Isnaeni-Sunawar, jalan terus. Dan acara tudin-menuding juga jalan terus. Dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=494&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 02 Desember 1978. NOPEMBER, tampaknya merupakan &#8216;bulan pecah&#8217; bagi PDI. Jum&#8217;at 2 Nopember 1977, Achmad Sukarmadidiaja &#8216;memprakarsai&#8217; reshuffle DPP PDI. Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaja diganti oleh Mh. Isnaeni dan Sunawar Sukowati sebagai ketua umum dan ketua. Tapi waktu itu baik kelompok Sanusi-Usep maupun Isnaeni-Sunawar, jalan terus. Dan acara tudin-menuding juga jalan terus. Dua bulan kemudian, 16 Januari lalu, ketika mereka herhasil dirujukkaI di Markas Bakin jalan Senopati, Jakarta setelah rembugan 3 jam. Ketika itu ada kesan pemerintah memberi angin kepada Isnaeni-Sunawar. Belakangan terdengar desas-desus: Hardjantho Sumodisastro yang akan ditampilkan sebagai ketua umum. Ternyata hasil di Senopati berupa kompromi: Sanusi tetap ketua umum, sementara kedua kelompok yang saling bertentangan ditampung pula dalam susunan DPP yang baru. <span id="more-494"></span>Sejak itu tak terdengar kegiatan yang menonjol, sampai pekan lalu, setahun setelah perpecahan pertama. Tapi Jum&#8217;at 24 Nopember kemarin, Sanusi gantian &#8216;membebas-tugaskan&#8217; Isnaeni dan Sunawar sebagai 2 dari 15 ketua-ketua DPP PDI. Barangkali ingin dianggap &#8216;netral&#8217;, ia juga menyorot Usep. Tapi seperti bunyi surat Usep yang dibacakan Sanusi &#8212; bersedia mengundurkan diri kalau memang terbukti melanar ketentuan partai-menurut Sanusi, rekannya itu tidak melanggar. Jadi tak perlu dibebas-tugaskan. Jadinya, berita tentang PDI yang menonjol rupanya perpecahan melulu tanpa diketahui adanya perbedaan ide-ide yang penting. Sementara masingmasing kelompok saling menuding lawannya sebagai &#8216;melanggar konstitusi partai&#8217;, memang terkesan bahwa PDI ternyata diatur dan diricuhkan oleh segelintir pimpinan di atas saja. Antara PNI Masih tetap seperti dulu, Isnaeni-Sunawar memegang kartu mandataris DPP PNI likwidasi sebelum fusi, sedang Sanusi menggunakan legalitasnya sehagai mandataris kongres I PDI. Biang perpecahan kali ini pun masih tetap yang dulu-dulu juga: ketidak-serasian antara tokoh-tokoh bekas PNI. Dalam perpecahan pertama dulu, kelompok Sanusi-Usep dituduh tidak segera menampilkan calon Presiden, dalam hal ini Soeharto, menjelang SU MPR. Bahkan Usep disinyalir anti dwifungsi ABRI. Perpecahan makin meruncing, ketika Sanusi-Usep tidak menyetujui Isnaeni &#8216;terpilih&#8217; sebagai Wakil Ketua DPR-RI. Sekarang apa tuduhan Sanusi? Banyak. Antara lain: Isnaeni-Sunawar telah membentuk beberapa DPD dan DPC PDI tandingan di beberapa daerah tanpa setahu Sanusi: DKI, Bandung, Lampung, Palembang, Klaten, Sukoharjo. Hal ini dianggap melanggar konsensus 3 Agustus 1978. Dalam rapat 3 Agustus itu disepakati untuk tidak membentuk DPD dan DPC tandingan, sebaliknya sedapat mungkin mempersatukan. Bagaimana reaksi Isnaeni dan Sunawar? &#8220;Keputusan Sanusi itu tidak akan laku. Saya tetap ketua DPP PDI,&#8221; katanya keras sambil tidak lupa menuduh Sanusi sebagai diktator. &#8220;PDI bukan milik Sanusi seorang,&#8221; tambahnya. Pernyataan Sunawar hampir senada: &#8220;Tak seorang pun berhak memecat saya kecuali kongres.&#8221; Meskipun tindakan Sanusi kali ini dikatakan tak ada kaitannya dengan kedudukan Isnaeni dan Sunawar masingmasing sebagai Wakil Ketua DPR dan Wakil Ketua DPA &#8212; bahkan Sanusi mengharapkan keduanya mencurahkan tenaga untuk kedua jabatan di lembaga tersebut &#8212; toh balasan Isnaeni-Sunawar tak tanggung-tanggung. Tak sampai 24 jam setelah pengumuman Sanusi, maka Sunawar &#8216;mengangkat&#8217; Isnaeni menggantikan Sanusi sebagai ketua umum DPP PDI. Sanusi ganti &#8216;dibebas-tugaskan&#8217;. Kalau Sanusi, dengan legalitas sebagai mandataris kongres I PDI merasa berhak menyempurnakan susunan DPP, maka Sunawar yang mengaku mandataris DPP PNI in-likwidasi merasa berhak mengganti Sanusi yang berasal dari PNI dengan unsur PNI lainnya, yaitu Isnaeni. Yang amat menarik adalah posisi Hardjantho kini. Dulu berdiri di belakang Isnaeni-Sunawar, kali ini Hardjantho yang dalam DPP mengetuai Kelompok Kerja Organisasi, membenarkan tindakan Sanusi. Ia merasa dibikin repot dengan munculnya DPD dan DPC tandingan. Dalam setiap rapat, posisi Sanusi kuat. Kecuali dia sendiri, 5 dari 9 unsur PNI yang duduk dalam DPP memihaknya: Usep, Hardjantho, Notosukardjo, Abdul Madjid, Aberson sementara yang pada Isnaeni ialah Sunawar dan Adi Pranoto saja. Ke-9 tokoh PNI ini juga tidak sepakat ketika membicarakan susunan Panitia Kongres II PDI yang direncanakan Maret mendatang. Kelompok Sanusi menghendaki DPE yang 29 orang itu otomatis sebagai panitia. Barangkali alasannya: karena fusi PDI sudah dianggap tuntas. Jadi tak perlu lagi memperhatikan unsur bekas partai yang kini fusi. Sementara itu kelompok Isnaeni menginginkan susunan baru, 11 orang, terdiri dari PNI 3 orang (Isnaeni, Sunawar, Hardjantho), sedang Katholik, Parkindo, IPKI, Murba masing-masing 2 orang. Tapi Hardjantho menolak. Kabarnya Isnaeni-Sunawar sebagai &#8220;Presidium Panitia Kongres&#8221; malah sudah bertemu dengan Mensesneg dan Pang Kopkamtib segala, hingga DPP PDI bersidang berkali-kali. Dalam rapat intern unsur PNI, 23 Nopember lalu, kegawatan itu memuncak. Bahkan konon ada yang mengajak PDI bubar saja. &#8220;Ada yang mengajak supaya lapor bubar saja pada Pak Hato,&#8221; kata sumber TEMPO. Lalu apa kabar Marsusi? Ketua DPD PDI Jawa Timur ini, dalam perpecahan tahun lalu dikenal sebagai &#8216;jago bicara&#8217; di pihak Isnaeni-Sunawar. Tapi kali ini, ternyata ia lebih suka lihat angin dulu. &#8220;Saya akan lebih berhati-hati,&#8221; katanya. Lain halnya dengan Ipik Asmasubrata, ketua DPD PDI Jakarta Raya (tandingan) yang sejak dulu memihak Isnaeni-Sunawar. &#8220;Ini semua gara-gara Hardjantho yang berambisi jadi ketua umum. Dialah &#8216;senopati&#8217;nya,&#8221; katanya lantang pekan lalu. Dengan menyebut &#8216;senopati&#8217;, barangkali ia menuduh Hardjantho sebagai dalang kericuhan. Yang jadi pertanyaan orang luar ialah benarkah bapak-bapak ini tidak merasa malu?</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=494&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/06/kemarin-kan-bulan-nopember-jadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmad subardjo (1896-1978)</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/ahmad-subardjo-1896-1978/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/ahmad-subardjo-1896-1978/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 11:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=492</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 23 Desember 1978. MEREKA yang biasa berjalan pagi di sekitar jalan Cikini Raya, Jakarta, tidak akan melihat pemandangan ini lagi: Seorang tua pendek berjenggot putih memakai mantel, tiap pagi (bila tidak hujan) berjalan-jalan dari rumahnya di Cikini Raya sesudah sembahyang subuh. Mereka mungkin tidak tahu siapa kakek yang usianya sudah melewati 80 tahun itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=492&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 23 Desember 1978. MEREKA yang biasa berjalan pagi di sekitar jalan Cikini Raya, Jakarta, tidak akan melihat pemandangan ini lagi: Seorang tua pendek berjenggot putih memakai mantel, tiap pagi (bila tidak hujan) berjalan-jalan dari rumahnya di Cikini Raya sesudah sembahyang subuh. Mereka mungkin tidak tahu siapa kakek yang usianya sudah melewati 80 tahun itu. Mungkin mereka tidak tahu juga berjalan kaki tiap pagi adalah caranya untuk bisa awet muda dan lancar berpikir berdasar resep: &#8220;Jangan cemas dan jalan kaki banyak-banyak.&#8221; Hari Jum&#8217;at pekan lalu, orang tua itu Prof. Mr. Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, dalam usia 82 tahun karena flu yang menimbulkan komplikasi. Upacara pemakaman secara militer dipimpin Menko Polkam M. Panggabean. Jenasahnya dimakamkan di halaman depan rumah istirahatnya di Cipayung, Bogor. Begitu memang permintaan almarhum untuk dimakamkan &#8220;dekat gunung, sawah dan rakyat dengan desanya yang sedang membangun.&#8221; Untuk jasanya, pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional.<span id="more-492"></span>Ahmad Subardjo memang patut menerima gelar itu. Ia diangkat sebagai Menteri Luar Negeri pertama RI 19 Agustus 1945 selama 4 bulan sampai terbentuknya Kabinet Sjahrir. Kembali ia menjabat Menlu antara 1951-1952. Sering ia memimpin delegasi Indonesia ke konperensi internasional, menjabat Dubes untuk Republik Federal Swiss, anggota DPA (1961-1965), Profesor laiam Sejarah Konstitusi dan Diplomasi RI. Fakultas Sastera jurusan sejarah UI (1968) dan pada 1975 bersama Hatta Sunario, A.G. Pringgodigdo dan A.A. Maramis merupakan Panitia Lima yang bertugas menjabarkan Pancasila. Ahmad Subardjo memainkan peranan penting menjelang Proklamasi Kemerdekaan, bersama Bung Karno dan Bung Hatta merumuskan teks proklamasi, anggota Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan sering menjembatani pertentangan antara kelompok pemuda dan kelompok tua. Tapi sebetulnya perjuangan Ahmad Subardjo telah dimulainya sejak ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Leiden tahun 1919. Nama aslinya Teuku Abdul Manaf lahir di Karawang 23 Maret 1896. Anak bungsu mantri polisi desa ini kemudian dirubah namanya menjadi Subardjo berkat usul seorang sahabat ayahnya. Subardjo konon berasal dari kata Sanskerta &#8220;subraj&#8221; yang berarti cemerlang. Tambahan &#8220;Ahmad&#8221; berkat usul kakeknya. Nama Djojohadisuro yang dipakainya menurut almarhum pada TEMPO akhir tahun lalu ada ceritanya waktu itu ia ditahan di penjara Ponorogo karena tersangkut &#8220;Peristiwa 3 Juli 1946&#8243;. Ketika sedang buang air kecil di tengah malam didengarnya suara lirih dalam bahasa Jawa: &#8220;Sudah waktunya engkau punya nama keluarga.&#8221; Suara itu menunjuk nama Djoyoadisuryo yang sejak itu dipakainya. Ahmad Subardjo pernah menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda dan pemrakarsa dipakainya merah putih sebagai lambang perhimpunan itu (1921-1922). Pada 1922 setelah lulus Sarjana Muda ia pulang ke Indonesia. Tapi beberapa bulan kemudian ia &#8220;terpaksa&#8221; melanjutkan kuliahnya sebab &#8220;Embah saya bilang malu punya cucu tidak bertitel.&#8221; Pada 1933, 11 tahun kemudian barulah ia berhasil mencapai gelar Mr. Lamanya studi itu karena Subardjo sangat aktif dalam kegiatan politik. Subud Ia menguasai 9 bahasa termasuk Perancis, Jerman, Latin dan Yunani. Senang menulis sejak masih mahasiswa. Hal ini terus dilakukannya sampai saat akhirnya &#8212; sambil mendengarkan musik Barat klasik. Sering juga di hari libur ia memainkan biolanya. Bapak dari 2 puteri dan 3 putera ini sempat menulis 2 buku: Lahirnya Republik Indonesia (1972) dan Kesadaran Nasional (1978) sebuah otobiografi. Sebagai ketua kehormatan &#8220;Susila Budidarma&#8221; (Subud), Subardjo biasa mengosongkan pikirannya selama 30 menit sebelum tidur yang &#8220;rasanya sama dengan 5 hari di Puncak.&#8221; Hidup buat dia adalah &#8220;gerakan dan aktivitas.&#8221; Dan itu dilakukannya sampai saat-saat terakhirnya, memimpin Lembaga Masalah Internasional dan Himpunan PBB untuk Indonesia. Tulisnya tentang 17 Agustus 1945: (Saya masih tidur sewaktu kurang lebih pukul 10.00 pagi pada tanggal I7 Agustus datang dua utusan dari Soekarno dan Hatta untuk membangunkan saya. Mereka mengatakan saya harus segera berpakaian untuk menyaksikan upacara pengibaran bendera nasional sang Merah Putih dan Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan. Saya merasa begitu lelah dari kejadian yang menegangkan syaraf yang baru saya alami sepanjang hari dan malam sebelumnya, sehingga saya memutuskan untuk meneruskan istirahat saja. Apalagi yang aya ingini Mimpi Indonesia Merdeka telah menjadi kenyataan. Apa bedanya saya hadir dan tidak? Hal yang paling penting adalah bahwa kita sendiri dan generasi berikutnya dari rakyat saya telah menjadi warganegara yang bebas dari sebuah Negara Merdeka: REPUBLIK INDONESIA. Saya mengirim sebuah pesan kepada Bung Karno dan Bung Hatta meminta mereka untuk memaafkan ketidak hadiran saya dan supaya mereka segera saja memulai upacara Proklamasi Kemerdekaan. Subardjo tidak sempat menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan yang bersejarah itu. Tapi namanya akan tetap tercatat dalam sejarah Indonesia, mungkin sebagai tokoh kontroversil. Ia pernah dianggap sebagai &#8220;kolaborator Jepang&#8221; karena peranannya sebagai Kepala Biro Riset di Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang di Indonesia antara 1943-1945. Pernah juga ia dianggap &#8220;pro Amerika&#8221; ketika ia menyetujui Mutual Security Act (MSA) yang menyebabkan kejatuhannya sebagai Menlu (1952). Tokoh-tokoh sejarah Indonesia ternyata memang tidak luput dari pertentangan, mungkin juga kesalahan. Tapi perkembangan menunjukkan bahwa kekeliruan dan perbedaan bersifat nisbi. Pada aknirnya, seperti Subardjo, semua diterima sebagai bakti.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=492&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/ahmad-subardjo-1896-1978/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bencana Kedua Di Kolombo (Jemaah Haji Indonesia)</title>
		<link>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/bencana-kedua-di-kolombo-jemaah-haji-indonesia/</link>
		<comments>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/bencana-kedua-di-kolombo-jemaah-haji-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 11:32:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indrajabrix</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musibah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://peristiwanasional.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Tempo 25 November 1978. CUACA buruk, Rabu malam pekan lalu, menyelimuti bandar udara antar bangsa Kutanayake, 25 km dari Kolombo, ibukota negeri pulau Srilangka. Hujan lebat dan badai. Laju angin utara 11,4 km perjam dan lembab udara mencapai 100%, lampu-lampu landasan pun padam, hingga jarak pandang cuma mencapai 6 km. Menurut petugas meteorologi bandarudara, dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=490&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tempo 25 November 1978. CUACA buruk, Rabu malam pekan lalu, menyelimuti bandar udara antar bangsa Kutanayake, 25 km dari Kolombo, ibukota negeri pulau Srilangka. Hujan lebat dan badai. Laju angin utara 11,4 km perjam dan lembab udara mencapai 100%, lampu-lampu landasan pun padam, hingga jarak pandang cuma mencapai 6 km. Menurut petugas meteorologi bandarudara, dalam cuaca normal, jarak pandang landasan yang bagus untuk mendarat adalah 8 km. Jam 23.30 waktu setempat Rabu malam itu (Kamis jam 02.30 WIB dinihari), petugas menara pengawas bandar udara samar-samar melihat sebuah pesawat jet mendekat dari jarak 145 km. Karena terbang pada ketinggian cuma 195 meter, pilot diperingatkan terbang terlalu rendah. Meski begitu, petugas menara masih berusaha memandunya ketika pesawat mendekat pada jarak 6 km dari bandarudara. Di layar radar tampak noktah, tanda bahwa pesawat masih terjangkau oleh radar, sementara kontak panggilan diserukan berulang-kali: &#8220;Lima, Lima, Zero, Zero One &#8221; Tapi 27 detik kemudian, noktah itu pun lenyap dari layar radar dan sahutan dari pesawat pun tak lagi terdengar. <span id="more-490"></span>Pesawat yang bermaksud melandas di Landasan 22 itu jatuh hanya sekitar 3,7 km sebelah timur bandarudara &#8230;. Jatuh di perkebunan kelapa, pesawat itu patah tiga. Ekornya putus, hidung terhunjam di tanah berlumpur. Mesin-mesinnya berantakan. Ledakan berdentum dahsyat 2 kali. Ketika fajar menyingsing, pemandangan mengerikan. Mayat berserakan tertindih puing pesawat, sebagian meninggal duduk di kursi dengan sabuk pengaman masih terkunci. Itu adalah pesawat DC-8 Icelandic Loftleider dari maskapai penerbangan Eslandia. Dicarter maskapai penerbangan Garuda, pesawat long body berkapasitas 240 itu mengangkut 249 jemaah haji dari Jeddah dengan awak pesawat 13 orang. Dengan tujuan Surabaya, Icelandic di kemudikan oleh pilot Haukar Hervinsson dan Ragnar Thorkelsson dengan ko-pilot Gudjon Runar Gudjonsson. Hervinsson yang beranak 3 orang itu sudah 12 tahun sebagai pilot di Icelandic Airways. Ia meninggal bersama 7 rekan awak pesawat lainnya serta 173 jemaah haji. Adapun jemaah haji itu berasal dari Kalimantan Selatan yang berangkat terbang dari bandarudara Juanda Surabaya. Itu adalah penerbangan pertama fase kedua memulangkan jemaah haji ke tanah air. Kesibukan luar-biasa meliputi Kolombo. Kantor-kantor pemerintah mengibarkan bendera setengah tiang, sementara Menteri Perhubungan Srilangka, M.H. Mohamed, menghimbau umat Islam bersembahyang gaib. Hari Jum&#8217;at itu dinyatakan sebagai hari duka. Umat Islam Srilangka bahkan menghendaki para korban yang meningal, para syuhada dimakamkan hari itu juga di Srilangka. Sejak Rabu malam jam 24.45 waktu setempat, para petugas RSU Kolombo bekerja tanpa istirahat. Sejumlah besar perawat yang sedang mengikuti sebuah pertemuan, dengan sukarela membantu para korban. Termasuk sejumlah siswa perawat dan sukarelawan Palang Merah setempat. Dua tim dokter dikerahkan, juga para ahli bedah syaraf dan ortopedi. RS Negombo yang jauhnya 50 km dari Kolombo pun, sibuk. Sebelas jam setelah musibah, kotak pencatat penerbangan yang lazim disebut black box ditemukan. Dibawa ke Kolombo, kotak berisi pita perekam percakapan antara petugas menara pengawas dan pilot itu akan diperiksa di pabrik Mc Donald Douglas, AS, tempat pesawat DC-8 dibikin untuk mengetahui musabab kecelakaan. Ini musibah besar kedua untuk jemaah haji udara dari Indonesia. Yang pertama 4 Desember 1974 lalu, juga Rabu malam, juga di Srilangka dan juga dengan DC-8. Juga dicarter oleh Garuda, juga berangkat dari Surabaya. Bedanya musibah 1974 lalu dengan pesawat dari maskapai penerbangan Martinair, Belanda, jatuh di Puncak Adam dari perbukitan Tujuh Perawan, semua meninggal &#8211; 182 jemaah dan 9 awak pesawat. Mengapa harus singgah di Kolombo? Menurut Menteri Perhubungan Haji Rusmin Nuryadin yang baru pulang menunaikan ibadah haji dan Sabtu pagi pekan lalu melapor Presiden Soeharto, hal itu terserah perusahaan penerbangan bersangkutan. Dibanding Bombay dan Karachi sebagai pilihan lain, Kolombo &#8220;lebih menguntungkan,&#8221; antara lain karena terbuka 24 jam. Tentang pemilihan maskapai dan pesawatnya, menurut Rusmin, &#8220;lisensinya sudah diperiksa oleh Direktorat Kelaikan Udara Ditjen Perhubungan Udara.&#8221; Sumber TEMPO di Garuda senada dengan Rusmin. Dalam hal carter, &#8220;pokoknya Garuda tahu beres, semua sudah diteliti Ditjen Perhubungan Udara.&#8221; Tentang persinggahan di Kolombo, &#8220;karena Kolombo di tengah-tengah. Jeddah-Kolombo dan Kolombo-Jakarta, masing-masing 5 jam terbang.&#8221; Katanya pula, pesawat Condor Boeing 747 Lufthansa yang jauh lebih besar juga singgah di sana. Sampai sekarang, setiap Sabtu, Garuda yang terbang ke Eropa pun singgah di sana. Beberapa waktu lalu Kolombo memang tidak disinggahi karena persediaan bahan bakar menipis. Tapi mengapa mesti carter pesawat lain? &#8220;Untuk mengangkut 72.000 jemaah haji, armada Garuda tidak cukup,&#8221; kata sumber itu. Untuk itu dicarter 1 DC-8 Icelandic, 1 DC-10 UACI (United Air Carrier International), 2 DC-10 Martinair. Garuda sendiri mengerahkan 2 DC-10, &#8220;hingga jadwal penerbangan ke Eropa dan Australia dikurangi.&#8221; Untuk memulangkan sisa jemaah haji jatah Icelandic, Garuda akan mengangkut dengan pesawat sendiri. Minggu 19 Nopember kemarin jam 18.25 WIB, pesawat DC-10 Garuda CA 897 mendarat di Halim Perdanakusumah. Selain membawa 40 penumpang dari Amsterdam dan Paris, diangkut pula 33 dari 76 jemaah yang selamat. Mereka lalu diistirahatkan di 20 kamar Hotel Indonesia Sheraton di lantai 3, yang dilengkapi sajadah, Alqur&#8217;an dan kompas penunjuk kiblat. Menurut mereka, pesawat Icelandic yang celaka itu memang sudah terlambat 3 jam berangkat dari Jeddah Bagaimana perasaan mereka? Haji Tabrani Basri, 39 tahun, dosen Universitas Lambungmangkurat, berkata &#8220;Di pesawat saya mimpi sembahyang di mesjid Nabi. Di sekeliling saya mayat berserakan. Ketika terjaga, pesawat sudah mendekati Kolombo. Dan beberapa menit kemudian pesawat tidak normal.&#8221; Dosen Unlam lainnya, Jusuf Mansur meninggal. Menurut cerita rekannya, Ibrahim Aman, juga dosen Unlam yang menjenguk Tabrani di HI, dalam rapat senat menjelang berangkat haji Jusut minta waktu bicara. Katanya antara lain: &#8220;Kata orang berangkat haji itu berangkat mati. Saya minta maaf kepada saudara-saudara, mungkin saya mati di negeri orang.&#8221; Lain lagi cerita Haji Abi Karsa tentang Jusuf. Dalam perjalanan dari Kutanayake ke rumah sakit, Abi semobil dengan Jusuf. Cerita Abi: &#8220;Kelihatannya ia tak apa-apa. Kami omong-omong biasa, sementara di luar hujan lebat. Menjelang sampai rumahsakit, eh, dia diam saja. Ternyata sudah meninggal. Innalillahi. . . &#8221; Abi Karsa, wartawan Banjarmasin Post itu, ditemui TEMPO di kamar 314. Kakinya bengkak, dibalut. Jalannya pincang. Di kertas notes hotel, ia menulis: &#8220;Sebelum musibah, mendadak ada pemberitahuan tanda bahaya. Mula-mula pesawat tergoncang keras, perut pesawat menyentuh pucuk pepohonan, lalu jatuh. Goncangan dan hempasan begitu keras, rasanya sulit bisa hidup. Teriakan dan rintihan terdengar dari berbagai sudut. Saya buru-buru membuka sabuk pengaman, mengajak isteri saya keluar. Kursi kami di sebelah kiri, di bagian ekor dekat pintu darurat, api mulai membesar di sayap kanan. Saya mencoba memecah jendela tapi gagal. Lalu isteri saya melihat ada lobang di belakang. Ternyata ekor pesawat putus dan perutnya terbuka lebar. Dalam waktu singkat, saya berusaha mendorong pecahan pesawat, ke luar membimbing isteri saya. Baru dua meter, kami terperosok di antara puing pesawat. Untung bisa lepas. Ledakan pertama terdengar, kami bertiarap. Lalu lari. Baru sekitar sepuluh meter, ledakan lagi dan kami tiarap lagi. Baru setelah itu ke rumah penduduk terdekat. Beberapa menit kemudian polisi, ambulans dan pemadam kebakaran datang. Dengan bahasa Inggeris, saya minta kepada orang-orang Srilangka agar para korban segera dibawa ke rumah sakit.&#8221; Isteri Abi menambah: &#8220;Ada asap hitam. Kira-kira 10 orang yang mengeluarkan lendir hitam dari hidung karena terisap asap itu. Ketika terdengar ledakan pertama, semua berteriak Allohu Akbar. Kemudian berlarian keluar dan terdengar ledakan kedua. Orang Srilangka baik-baik. Mereka membawa makanan. Karena lapar, saya makan saja. Di RS Negombo, wah susah. WC nggak ada. Kotoran ditampung entah mau diapakan. Kotornya bukan main, lebih bagus Puskesmas di sini.&#8221; Semalam menginap di Hotel Indonesia Sheraton, paginya mereka diterbangkan ke Banjarmasin. Sabtu petang jam 15.25 WIT, 2 pesawat Hercules TNI-AU mendarat di bandarudara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, membawa 111 peti jenasah, berisi 173 korban. Tapi hanya 37 korban yang dikenal identitasnya. Mereka disemayamkan sementara di bandarudara, sedang 136 lainnya yang tak lagi dikenali dimakamkan di 4 lubang ukuran 6 x 2l/2 meter, tak jauh dari Makam Pahlawan &#8220;Bumi Kencana&#8221;, Banjarbaru. Pemakaman dengan upacara militer itu baru selesai jam 21.30. Hari itu semua restoran, bar, bioskop dan tempat hiburan lainnya tutup. Bendera hijau terpancang di pintu-pintu keluarga para korban. Atas kepergian para syuhada itu, Menteri Agama Alamsyah mengajak berdoa &#8220;semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan mendapat tempat yang layak di sisinya. Amin.&#8221;</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/peristiwanasional.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/peristiwanasional.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=peristiwanasional.wordpress.com&amp;blog=9455684&amp;post=490&amp;subd=peristiwanasional&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://peristiwanasional.wordpress.com/2011/09/05/bencana-kedua-di-kolombo-jemaah-haji-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc5352b683198f9d8e06c4dad5d532b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indrajabrix</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
