Indonesia Files

leave a comment »

Tempo 05 Mei 1979.  Perampok Bertampang Banci TAK seorang kenalannya pun dapat menyangka sebelumnya. Johanes Hubertus Eijenboom (27 tahun) seorang yang tampan. Lagak lagunya lembut. Sedikit pun tak mencerminkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang keras. Bahkan untuk model iklan rokok pun, menurut pimpinan biro iklan Intervista yang membayarnya untuk itu, ia tak cukup jantan. “Dia kebanci-bancian,” kata orang biro iklan tadi. Johny Indo — begitu namanya disebut, karena ia Indo Belanda — hanya dipasang sebagai peran pembantu dalam iklan rokok Ardath. Yang diketahui oleh Toto dari Intervista si Johny tampak putus asa. “Ia betul-betul sedang membutuhkan uang,” kata Toto. Melamar pekerjaan di berbagai kantor selalu gagal. Sedangkan honorariumnya sebagai model yang belum ternama memang tak cukup memberinya penghasilan bagi isteri dan ke 4 anak perempuannya. Belum terhitung bagi 2 atau 3 pacarnya. Itu saja yang diketahui teman-temannya. Dukun Wanita Selebihnya, menurut cerita polisi, Johny yang feminin itu mampu mengumpulkan banyak teman dari kalangan “hitam”. Dia membeli sepucuk pistol. Sebuah senjata laras panjang lainnya disrobot dari seorang petugas keamanan yang lengah di tempat hiburan Ancol. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

December 2, 2011 at 7:14 am

Posted in Kiriminal

Kenangan Manis, Sebuah Sejarah (KAA 1955)

leave a comment »

Tempo 28 April 1979. RUANG pameran Gedung Kebangkitan Nasional di jalan Abdurrachman Saleh, Jakarta, Senin pagi lalu tampak sepi. Hampir tidak ada pengunjung yang menonton Pameran Foto dan Dokumentasi Konperensi Asia-Afrika yang diselenggarakan Panitia Peringatan Tri-Windu Konperensi Asia-Afrika 18-24 April lalu. Kurang dari 200 nama tertulis di buku tamu pameran. Suasana ceramah yang berlangsung di ruang pertemuan tidak jauh berbeda. Hanya 18 orang yang hadir dalam ceramah yang diberikan oleh Ubani, bekas Dubes Indonesia untuk Siria. Walau yang hadir sedikit, penceramah sendiri kelihatan bersungguh-sungguh. Beberapa pemuda yang hadir tampak membawa buku pinjaman dari perpustakaan Idayu yang bertempat di kompleks yang sama. Tertarikkah mereka pada peringatan Konperensi AA? “Iseng saja, mas, habis dari perpustakaan Idayu. Daripada bengong di rumah,” tutur salah satu dari mereka. Suasana pembukaan pekan peringatan yang dilangsungkan di bawah tenda di halaman Gedung Pola 18 April lalu cukup meriah. Sekitar 250 orang termasuk para diplomat Asia-Afrika hadir pada upacara yang dibuka Wapres Adam Malik. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 7:53 am

Posted in sejarah

Mereka Pulang Dari Nirbaya (Bung Tomo)

leave a comment »

Tempo 14 April 1979. BUNG Tomo, 58 tahun, lagi sembahyang maghrib di kamar tahanan ketika sedan Primier biru metalic B 1583 EG masuk halaman perkampungan tahanan Nirbaya di pinggir selatan Jakarta, Senin sore kemarin. Isteri dan ketiga anak Bung Tomo turun. Mereka menjemput Bung Tomo yang hari itu bebas setelah ditahan setahun. Tepat jam 19.00, menjelang Isya, Bung Tomo keluar. Wajahnya gembira, ia tampak lebih sehat tapi tambah gendut. “Habis, di sini makan melulu. Lagi pula ada larangan dokter untuk senam, ” katanya setengah berteriak. Ia mengenakan baju hangat dari wool abu-abu. Ada 7 tas dan 3 ember plastik, 1 koper dan 1 ranjang lipat dibawanya pulang. Juga sebuah kompor. Selama ditahan ia memang suka memanaskan sayur kiriman isterinya atau menggoreng telur sendiri. Tampaknya ia tidak kesepian. Sebab ada hikmah paling besar yang dirasakannya, ialah jiwanya yang semakin dekat kepada Tuhan. “Sembahyang di Nirbaya rasanya lebih tenang dan mantap,” katanya. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 7:41 am

Posted in Tokoh

Akhirnya, Mesir-Israel Damai

leave a comment »

Tempo 31 Maret 1979. DOA dan kerja keras Presiden Carter lima hari di Timur Tengah memperlihatkan hasilnya awal pekan ini. Yaitu Presiden Sadat dan Perdana Menteri Begin menandatangani perjanjian damai Israel-Mesir di Gedung Putih. Di tengah kemarahan sebagian besar pemimpin negara Arab, Sadat secara resmi mengakui Israel setelah 30 tahun menolak kehadirannya lewat 4 perang besar mahal dan menelan banyak jiwa. Di Washington Sadat dan Begin dieluh-eluhkan sebagai “pahlawan perdamaian.” Tapi yang secara langsung menikmati perjanjian damai itu Carter sendiri. Ketika bertolak ke Timur Tengah awal Maret, popularitas Carter sudah melorot hingga cuma 37%. Kebijaksanaan dalam negerinya — inflasi dan pengangguran — dan kegagalannya di Iran secara bersama membuatnya tidak populer. Dengan nyali yang besar, Carter menerobos kemacetan pelaksanaan persetujuan Camp David. Di Mesir ia diterima Sadat yang sangat butuh damai. Di Israel Carter berhasil meyakinkan Begin akan kesempatan bagus lewat kesempatan damai yang tersedia. Para ahli masih belum melaporkan perkembangan terakhir popularitas Carter selepas kunjungannya ke Timur Tengah. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 7:23 am

Posted in Internasional

Harjowiadi Diundang Ke Jakarta

leave a comment »

Tempo 24 Maret 1979. KETIKA Letkol Soeharto datang dengan pasukannya 16 Pebruari 1949 di Bibis, Harjowiadi (69 tahun) menyediakan rumahnya untuk markas. “Ruang depan ini dipakai tidur. Ruang belakang untuk menyimpan barang,” katanya dengan bahasa Indonesia yang lancar. Apa misalnya? “Ada candu, ada senapan dan satu karung uang,” katanya. “Uang ori, bukan uang Belanda,” tambahnya. Maksudnya Oeang Republik Indonesia. “Yang mencarikan makanan buat pak Harto dan pasukannya saya sendiri. Dibantu penduduk dukuh, pak Harto betah di sini sampai berhasil merebut Yogyakarta” — begitu tutur Harjowiadi. Setelah selesai masa perjuangan, baru 5 Maret itu Soeharto sebagai presiden mengunjungi Dukuh Bibis lagi. Harjowiadi menuturkan, setiap tahun selalu dipanggil Pak Harto ke Cendana. Panggilan biasanya lewat Korem. Kadangkala untuk berhalal-bihalal lebaran, terkadang panggilan khusus. “Tahun lalu (1978) dua kali saya dipanggil ke Jakarta,” katanya. Naik apa? “Tinggal berangkat naik pesawat,” katanya. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 7:20 am

Posted in sejarah

Menunggu Revolusi Babak Ke-II (Revolusi Iran 1979)

leave a comment »

Tempo 10 Maret 1979. DI TEHERAN orang tak lagi berkumpul di sekolah puteli yang pernah dikosongkan untuk jadi markas revolusi penggulingan Shah Iran. Ayatullah Khomeini kini sudah berada di Qum, 160 Km dari ibukota, kota suci tempat 16 tanun yang lalu ia mengajar di madrasahnya. Awal Maret ini di depan ribuan orang yang mengelu-elukannya ia berpislato: “Sisa hidup saya, satu atau dua tahun lagi, akan saya manfaatkan menggerakkan kalian meneruskan perjuangan ini.” Ia sendiri, seperti dinyatakannya dulu, seraya menolak duduk dalam pemerinahan, akan tetap menjadi semacam pengawas dan pembimbing jalannya revolusi Iran ke arah “Republik Islam.” Ia sampai sejauh kini tetap menyatakan restunya kepada pemerintah sementara di Bazargan, yang sesungguhnya tidak nampak “revolusioner” benar (lihat hal 10). Ia ada mengakui kelemahan dan kesalahan pemerintah ini. Namun ia nampaknya harus mengelakkan benih-benih perpecahan antara pemerintah Bazargan dengan “Dewan Kevolusi Islam” yang susunannya tetap diliputi rahasia sejak dibentuk menjelang ia kembali ke Iran dari Perancis tempo hari. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 7:12 am

Posted in Internasional

Garuda Pancasila, Siapa Penciptanya

leave a comment »

Tempo 03 Maret 1979. MENURUT guru saya, pencipta Garuda Pancasila adalah Muhammad Yamin. Tapi dalam buku Bung Hatta Menjawab, beliau menyebutkan penciptanya adalah Sultan Hamid Pontianak.
Manakah yang benar?” tulis seorang murid sekolah di beberapa koran Jakarta belum lama ini. Ya, siapakah pencipta lambang negara ini? Pada 11 Juli 1945, dalam rapat Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan, anggota Parada Harahap — seorang wartawan terkenal waktu itu –mengusulkan agar di samplng menetapkan bendera nasional, UUD juga menentukan “lambang negara” (wapen), Usul ini diterima, tapi diputuskan lambang negara ini akan ditentukan dalam Undang-Undang Istimewa, bukan dalam UUD. Sesudah proklamasi kemerdekaan, dibentuk Panita Indonesia Raa diketuai Ki Hajar Dewantara dengan Muhammad Yamin sebagai sekretaris. Tugas panitia ini membuat lambang negara. Tapi karena Yamin ditahan sehubungan dengan Peristiwa 3 Juli 1946, menyebabkan tugas panitia ini tidak selesai. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 17, 2011 at 6:58 am

Posted in Uncategorized

Kemarin ‘kan Bulan Nopember Jadi …

leave a comment »

Tempo 02 Desember 1978. NOPEMBER, tampaknya merupakan ‘bulan pecah’ bagi PDI. Jum’at 2 Nopember 1977, Achmad Sukarmadidiaja ‘memprakarsai’ reshuffle DPP PDI. Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaja diganti oleh Mh. Isnaeni dan Sunawar Sukowati sebagai ketua umum dan ketua. Tapi waktu itu baik kelompok Sanusi-Usep maupun Isnaeni-Sunawar, jalan terus. Dan acara tudin-menuding juga jalan terus. Dua bulan kemudian, 16 Januari lalu, ketika mereka herhasil dirujukkaI di Markas Bakin jalan Senopati, Jakarta setelah rembugan 3 jam. Ketika itu ada kesan pemerintah memberi angin kepada Isnaeni-Sunawar. Belakangan terdengar desas-desus: Hardjantho Sumodisastro yang akan ditampilkan sebagai ketua umum. Ternyata hasil di Senopati berupa kompromi: Sanusi tetap ketua umum, sementara kedua kelompok yang saling bertentangan ditampung pula dalam susunan DPP yang baru. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 6, 2011 at 8:35 am

Posted in Partai Politik

Ahmad subardjo (1896-1978)

leave a comment »

Tempo 23 Desember 1978. MEREKA yang biasa berjalan pagi di sekitar jalan Cikini Raya, Jakarta, tidak akan melihat pemandangan ini lagi: Seorang tua pendek berjenggot putih memakai mantel, tiap pagi (bila tidak hujan) berjalan-jalan dari rumahnya di Cikini Raya sesudah sembahyang subuh. Mereka mungkin tidak tahu siapa kakek yang usianya sudah melewati 80 tahun itu. Mungkin mereka tidak tahu juga berjalan kaki tiap pagi adalah caranya untuk bisa awet muda dan lancar berpikir berdasar resep: “Jangan cemas dan jalan kaki banyak-banyak.” Hari Jum’at pekan lalu, orang tua itu Prof. Mr. Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, dalam usia 82 tahun karena flu yang menimbulkan komplikasi. Upacara pemakaman secara militer dipimpin Menko Polkam M. Panggabean. Jenasahnya dimakamkan di halaman depan rumah istirahatnya di Cipayung, Bogor. Begitu memang permintaan almarhum untuk dimakamkan “dekat gunung, sawah dan rakyat dengan desanya yang sedang membangun.” Untuk jasanya, pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 5, 2011 at 11:43 am

Posted in Tokoh

Bencana Kedua Di Kolombo (Jemaah Haji Indonesia)

leave a comment »

Tempo 25 November 1978. CUACA buruk, Rabu malam pekan lalu, menyelimuti bandar udara antar bangsa Kutanayake, 25 km dari Kolombo, ibukota negeri pulau Srilangka. Hujan lebat dan badai. Laju angin utara 11,4 km perjam dan lembab udara mencapai 100%, lampu-lampu landasan pun padam, hingga jarak pandang cuma mencapai 6 km. Menurut petugas meteorologi bandarudara, dalam cuaca normal, jarak pandang landasan yang bagus untuk mendarat adalah 8 km. Jam 23.30 waktu setempat Rabu malam itu (Kamis jam 02.30 WIB dinihari), petugas menara pengawas bandar udara samar-samar melihat sebuah pesawat jet mendekat dari jarak 145 km. Karena terbang pada ketinggian cuma 195 meter, pilot diperingatkan terbang terlalu rendah. Meski begitu, petugas menara masih berusaha memandunya ketika pesawat mendekat pada jarak 6 km dari bandarudara. Di layar radar tampak noktah, tanda bahwa pesawat masih terjangkau oleh radar, sementara kontak panggilan diserukan berulang-kali: “Lima, Lima, Zero, Zero One ” Tapi 27 detik kemudian, noktah itu pun lenyap dari layar radar dan sahutan dari pesawat pun tak lagi terdengar. Read the rest of this entry »

Written by indrajabrix

September 5, 2011 at 11:32 am

Posted in Musibah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.